TANJUNG REDEB, NOMORSATUKALTIM — Menjadi nakhoda di sebuah daerah bukanlah perkara membalikkan telapak tangan.
Apalagi di tengah panggung birokrasi yang kerap dibayangi dinamika fiskal yang pas-pasan. Realitas inilah yang secara terbuka diakui oleh Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas.
Secara terbuka, bupati perempuan pertama di Bumi Batiwakkal ini tidak menutup-nutupi kenyataan bahwa kantong anggaran daerah memiliki batas.
Konsekuensinya, belum semua mimpi dan harapan masyarakat bisa direalisasikan sekaligus dalam satu waktu.
BACA JUGA: Pemerintah Pusat Alokasikan Anggaran TKD Rp735 Triliun, Pemkab Berau Berharap 'Kecipratan'
Kendati demikian, di balik keterbatasan tersebut, komitmen Sri Juniarsih untuk membangun Berau tidak pernah kendur.
Ia memilih untuk memutar otak, merajut skala prioritas dan memastikan setiap rupiah uang rakyat benar-benar jatuh pada program yang paling krusial.
"Program yang dilaksanakan adalah yang menyentuh dan pelayanan terhadap masyarakat," ujar Sri Juniarsih dengan nada lugas, menegaskan arah kepemimpinannya belum lama ini.
Bagi Sri Juniarsih, memimpin secara efektif di tengah defisit ruang fiskal menuntut seni manajemen anggaran yang ketat.
BACA JUGA: Langit Berau kembali Biru Usai Diselimuti Asap Pekat, Bupati Sri Juniarsih: Stop Bakar Lahan!
Alih-alih mengejar proyek mercusuar yang elitis, namun jauh dari kebutuhan riil warga, ia memilih memfokuskan tenaga dan anggaran pada urusan-urusan dasar.
Mulai dari sektor pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga infrastruktur dasar penunjang ekonomi kerakyatan menjadi pos-pos utama yang terus dikawal agar tidak tergerus.
Prinsipnya sederhana, kata dia, negara harus hadir secara nyata di tengah-tengah denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menyadari bahwa roda pemerintahan tidak akan pernah luput dari sorotan dan ketidakpuasan warga, Sri Juniarsih memilih bersikap satria.
BACA JUGA: Temui Mendikdasmen di Jakarta, Bupati Berau Sri Juniarsih Perjuangkan Nasib Para Guru