Pendidikan yang Mencetak Pembangkang
Andrianus Ongko Wijaya Hingan.-dok.pribadi-
oleh: Andrianus Ongko Wijaya Hingan (Warga Sipil)
TULISAN ini lahir dari seorang pemuda kampung yang pernah mendapatkan kesempatan untuk “bercinta” di fakultas pendidikan pada sebuah kampus yang konon cukup tersohor di Kalimantan Timur.
Ya, umumnya kampus yang penulis lihat sekarang lebih tepat untuk mencari jodoh dan medan laga adu fashion ketimbang tempat mempertajam pikiran dan mengasah kedalaman argumentasi untuk mewartakan kebenaran serta membela kaum tertindas.
Noam Chomsky juga telah menggambarkan bahwa yang kerap disebut sebagai kaum intelektual itu ibarat “suar obor” yang siap mewartakan kebenaran atas berbagai penyelewengan yang dilakukan penguasa, tanpa sekat antara pendidikan, sosial, ekonomi, politik, dan budaya (Chomsky, 2019).
Pernyataan yang membuat dada terasa sesak nan menyakitkan ini harus diungkapkan. Mau hingga kapan pendidikan bangsa ini hanya berkutat sebagai pencetak mesin-mesin bernyawa (manusia) yang diupah rendah, dan sebagai pabrik penyeragaman pikiran serta produsen ijazah? Terkesan provokatif? Tak percaya? Periksalah di sekeliling Anda atau jangan-jangan Anda sendiri adalah hasil dari sistem itu.
Tahun berganti tahun, kurikulum pendidikan terus berubah atas nama pembaruan sistem nasional. Namun, hasilnya tetap nihil. Semua terasa hanya sebagai tambal-sulam kebijakan yang melelahkan (Topatimasang, 2010).
Namun, jika kita kembali pada akarnya, pendidikan bukan soal masuk ruang kelas, mendengar ceramah dari dosen atau guru, lalu pulang serta mendapatkan nilai rapor dan berlomba menjadi juara 1, 2, dan 3. Setelah itu, mendapatkan ijazah lalu dijajakan ke sana kemari dengan susah payah demi mendapatkan apa yang namanya “pekerjaan”.
Ingatlah pendidikan tak pernah netral dan bebas nilai. Menyitir petuah yang pernah diucapkan oleh Victor Serge, Bolshevik, untuk manusia-manusia yang sedang atau pernah makan bangku pendidikan:
“Kau ingin menjadi apa? Pengacara, untuk mempertahankan hukum kaum kaya yang secara inheren tidak adil? Dokter, untuk menjaga kesehatan kaum kaya, dan menganjurkan makanan yang sehat, udara yang baik, dan waktu istirahat kepada mereka yang memangsa kaum miskin?
Arsitek, untuk membangun rumah nyaman untuk tuan tanah? Lihatlah di sekelilingmu dan periksa hati nuranimu. Apa kau tak mengerti bahwa tugasmu sangat berbeda: untuk bersekutu dengan kaum tertindas dan bekerja untuk menghancurkan sistem yang kejam ini.”
Pendidikan saat ini sering kali menjadi alat penjajahan pikiran (monocultures of the mind).
Kita diajar untuk melihat dunia secara seragam dan mekanis, padahal kehidupan itu beragam dan saling terhubung (Shiva, 2020).
Pendidikan mesti membawa kita ke dalam sebuah perjalanan menuju kebebasan yang paripurna: kebebasan untuk berpikir kritis, merasakan penderitaan sesama, dan bertindak dengan keberanian menentang segala ketidakadilan.
Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang berani membangkang terhadap kebodohan yang dilembagakan, melawan kesewenang-wenangan yang dibungkus rapi dengan aturan, serta memberontak terhadap setiap bentuk penindasan yang dilakukan penguasa.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
