Pendidikan yang Mencetak Pembangkang
Andrianus Ongko Wijaya Hingan.-dok.pribadi-
Hakikat dari dialog terletak pada kata, yang memiliki dua sisi penting: refleksi dan aksi. Kedua unsur ini harus berjalan beriringan; tanpa refleksi, tindakan menjadi sekadar aktivisme, sedangkan tanpa tindakan, refleksi hanya menjadi wacana kosong.
Hanya melalui praksis perpaduan antara aksi dan refleksi kata memperoleh makna sejatinya, yakni menjadi sarana bagi manusia untuk mengubah dunia.
Kini, mari kita menyeberang lautan menuju tanah air. Di sini, Ki Hadjar Dewantara sudah sejak lama memberi kita “panduan perlawanan”.
Ia menolak pendidikan kolonial yang menjadikan anak pribumi hanya pekerja patuh. Ki Hadjar menanamkan gagasan bahwa pendidikan harus berpihak pada kemerdekaan manusia, baik lahir maupun batin. pendidikan, baginya, adalah taman untuk menumbuhkan manusia merdeka sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya.
Freire mengajarkan pembebasan dari penindasan, Ki Hadjar Dewantara mengajarkan pembebasan untuk menjadi manusia merdeka. Keduanya, dalam pembacaan penulis, bertemu pada satu keberanian, menolak pendidikan yang membelenggu manusia. Hanya saja, jalan yang mereka tempuh berbeda.
Freire membakar kesadaran kritis terhadap struktur yang menindas, sementara Ki Hadjar menyalakan kemerdekaan dalam diri manusia melalui pendidikan yang menuntun, bukan memaksa.
Yang satu lebih revolusioner dalam menggugat penindasan, yang lain lebih kultural dalam menumbuhkan kemerdekaan.
Penulis berkhayal, jika keduanya masih hidup dan memiliki kesempatan untuk bertemu, kedua orang ini pasti bersepakat bahwa pendidikan tanpa kebebasan hanyalah seonggok penjara yang diberi meja dan papan tulis.
Mirisnya, di abad ke-21 ini, semangat pemikiran mereka itu seperti tinggal di museum. Kita bangga mengutip kata-kata mereka di kelas dan seminar-seminar tapi gagal mempraktikkannya di kelas.
Sekolah dan kampus masih lebih sibuk mengejar akreditasi daripada kemerdekaan berpikir. Guru dan dosen yang “kritis” sering dicurigai, sementara murid dan mahasiswa yang banyak bertanya dicap “sok pintar bahkan dianggap ancaman”.
Padahal, bukankah ini merupakan tanda bahwa nalar masih hidup.
Bagi siapa pun yang sudah jenuh dengan kondisi pendidikan bangsa ini, penulis menawarkan beberapa kiat sederhana semoga menjadi lilin kecil yang tak pernah padam:
Jangan percaya bahwa semua yang tertulis dalam buku ajar atau materi pelajaran merupakan kebenaran mutlak. Bacalah, diskusikan, pertanyakan, praktikkan, dan refleksikan.
Jadikan ruang kelas sebagai wadah pergulatan pikiran dan argumentasi.
Jadikan keberpihakan sebagai kompas moral pendidikan, sebab pendidikan yang netral terhadap ketidakadilan hanyalah alat pelanggeng penindasan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
