Waktunya Telinga Beristirahat

Minggu 30-08-2026,08:01 WIB
Oleh: Michael Fredy Yacob

FUZHOU, NOMORSATUKALTIM - Ini momen telinga beristirahat sejenak. Bukan untuk berhenti mendengar, tetapi sedikit mengurangi kerja telinga untuk mendengarkan polusi suara. Suara yang dihasilkan dari kendaraan bermotor. Atau bahkan dari kebisingan lainnya.

Beberapa hari saya berada di Fuzhou. Ibukota provinsi Fujian, Tiongkok. Saya kesana bersama kawan-kawan pengusaha yang ada di Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) se-Indonesia. Agendanya perjalanan bisnis.

Selama empat hari, mengunjungi beberapa pabrik yang sudah mendunia. Tapi bukan kunjungan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini. Tetapi, kekaguman terhadap kondisi di sana. Kota besar serasa di pedesaan. Hening. Tenang. Sejuk –mungkin karena datangnya saat memasuki musim dingin.

Padahal, jumlah penduduk di kota tersebut lebih banyak dari beberapa kota besar di Indonesia. Misalnya Surabaya dengan populasi sebanyak 3,2 juta orang dan Medan sebanyak 2,4 juta orang.

Berdasarkan catatan terakhir pada 2025, populasi manusia di Fuzhou sebanyak 8,52 juta orang. Artinya penggunaan kendaraan roda empat maupun roda dua di kota itu pastinya besar. Di sini poinnya.

Walau dengan jumlah populasi yang cukup padat itu, saya hampir tidak mendengar keributan lalu-lalang kendaraan bermotor. Mayoritas di sana sudah menggunakan kendaraan listrik. Ramah lingkungan dan tidak bersuara.

Bahkan, untuk motor, saya tidak lagi melihat motor yang menggunakan mesin berbahan bakar minyak. Semua listrik. Suara yang sering terdengar adalah bunyi klakson motor yang melintas di area pejalan kaki.

Karena suara yang tidak ada, pejalan kaki kerap kali menutupi penuh akses jalan sehingga motor listrik itu tidak bisa melintas.

Terpaksa pengendara membunyikan klakson motor mereka agar pejalan kaki bisa memberikan jalan buat mereka.

Ketika berada di kota tersebut, panitia The 4th Maritime Silk Road Youth Exchange Camp menempatkan kami di Juchunyuan Exhibition Hotel, di Pandun Road, Cangshan, Fuzhou. Sepanjang jalan dari bandara International Changle (FOC) ke hotel, jalan-jalan sangat sepi. 

Saya berpikir bahwa kota tersebut cukup besar dengan luas daerah sekitar 11.986,53 kilometer persegi.

Jauh dibandingkan Surabaya yang hanya 338,05 persegi dan Medan yang berada di angka 265,10 kilometer persegi, karena itu terlihat sangat sepi.

Selama di sana, saya berdoa agar dibawa ke tempat yang ramai didatangi orang. Atau pusat orang-orang berkumpul. Doa saya terkabul. Kami dibawa oleh panitia kegiatan ke destinasi wisata yang cukup terkenal di sana: Sanfang Qixiang.

“Di sini pusat keramaian di Fuzhou. Karena ada destinasi wisata belanja dan sejarah. Ada juga mall yang cukup besar di sini,” kata Bruce Lee, tour guide, kepada media ini.

Walau ramai, di tempat itu pun minim suara. Memang, kata pria yang akrab disapa Mr Lie itu, saat ini di Fuzhou untuk motor sudah sekitar 90 persen menggunakan kendaraan listrik. Sementara, mobil baru sekitar 50 persen.

Kategori :