Hangzhou (5): Alibaba dan Ketika Teori Bekerja dalam Kehidupan Nyata
Alibaba tidak hanya membangun teknologi tapi juga manusia.-- Rina Juwita--
Catatan akhir dari perjalanan ke Hangzhou sebagai bagian rangakaian Program Global Symposium on University Governance for Academic Leaders yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia bekerja sama dengan Zhejiang University.
Oleh: Rina Juwita
Dosen FISIP UNMUL
KEESOKAN harinya, setelah kunjungan Zhejiang University, narasi demi narasi itu seperti menemukan kepingan berikutnya ketika kami mengunjungi Alibaba Cloud. Selama ini banyak orang mengenal Alibaba sebagai perusahaan e-commerce. Yang kami temui justru jauh lebih luas.
Saya semula membayangkan akan mendengar banyak istilah teknis tentang kecerdasan buatan atau cloud computing. Memang semua itu kami dengar.
Namun yang lebih menarik justru cara mereka memandang teknologi. Teknologi tidak diposisikan sebagai tujuan. Teknologi adalah alat. Alat untuk membantu petani. Alat untuk memudahkan UMKM. Alat untuk mengelola rumah sakit. Alat untuk memperkuat universitas. Alat untuk mempercepat pelayanan publik.
Baca Juga: Hangzhou (4): School of Marxism, Ajarkan Nilai Melayani Rakyat
Salah satu kalimat yang paling saya ingat adalah ketika mereka mengatakan bahwa dahulu infrastruktur berarti jalan, listrik, dan air. Kini, infrastruktur juga berarti cloud, kecerdasan buatan, dan data.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya mengandung perubahan cara berpikir yang sangat besar. Teknologi bukan lagi sektor tersendiri. Ia menjadi fondasi bagi hampir semua sektor.
Yang lebih menarik, Alibaba tidak hanya menjual teknologi. Mereka membangun manusia. Melalui berbagai program pelatihan, laboratorium, sertifikasi, hingga kolaborasi dengan universitas, mereka mencoba memastikan bahwa transformasi digital tidak berhenti pada perangkat lunak, tetapi tumbuh bersama talenta yang mampu menggunakannya.
Baca Juga: Hangzhou (3): Ketika Pendidikan Diperlakukan sebagai Harapan, Bukan Beban
Kalimat itu mengingatkan saya pada salah satu prinsip komunikasi pembangunan: inovasi hanya akan bermakna ketika mampu memperbaiki kehidupan masyarakat. Teknologi yang hebat tetapi tidak menyelesaikan persoalan manusia hanyalah kemajuan yang kehilangan arah.
Narasi yang hampir sama kami dengar saat berkunjung ke Dahua Technology, salah satu perusahaan AIoT dan smart security terbesar di dunia. Kamera tidak lagi sekadar merekam. Ia membantu mendeteksi kebakaran hutan. Mengurangi kecelakaan. Mengelola lalu lintas. Melindungi kampus.
Teknologinya memang mengagumkan. Namun yang lebih menarik bagi saya adalah cara mereka membangun kolaborasi. Universitas menjadi mitra riset. Mahasiswa menjadi calon inovator. Industri menjadi laboratorium penerapan. Pemerintah menjadi pengguna sekaligus regulator. Semuanya berbicara dalam bahasa yang sama.
Baca Juga: Hangzhou (2): Teknologi untuk Menjawab Kebutuhan Sehari-hari
Teknologi bekerja tanpa banyak terlihat. Ia hadir ketika dibutuhkan. Lalu menghilang ketika tugasnya selesai. Mungkin seperti itulah seharusnya inovasi. Tidak mencari tepuk tangan. Tetapi memberi manfaat.
Menjelang akhir kunjungan, saya mulai memahami mengapa Hangzhou terasa begitu berbeda. Bukan karena mereka memiliki Alibaba. Bukan karena mereka memiliki universitas kelas dunia. Bukan pula karena jalanannya dipenuhi kendaraan listrik. Semua itu hanyalah hasil.
Yang lebih penting adalah pilihan yang mereka buat jauh sebelumnya. Mereka memilih untuk percaya pada ilmu pengetahuan. Mereka memilih membangun manusia sebelum membangun teknologi. Mereka memilih mempertemukan kampus, industri, dan pemerintah dalam satu percakapan yang sama.
Dalam teori komunikasi pembangunan, keberhasilan sebuah bangsa tidak pernah hanya ditentukan oleh kemampuan menyampaikan pesan. Yang jauh lebih penting adalah kemampuan membangun kesamaan makna, menyelaraskan tujuan, dan menjaga dialog di antara seluruh pemangku kepentingan. Di Hangzhou, saya merasa melihat teori itu bekerja dalam kehidupan nyata.
Baca Juga: Hangzhou (1): Kota yang Membuat Masa Depan Terasa Biasa
Perjalanan ini tentu tidak membuat saya pulang membawa resep instan untuk Indonesia. Tidak ada satu negara pun yang dapat dicopy-paste begitu saja.
Tetapi Hangzhou meninggalkan satu pengingat yang terus bergema di kepala saya. Kemajuan tidak pernah datang karena sebuah bangsa memiliki lebih banyak uang. Kemajuan lahir ketika sebuah bangsa memiliki keberanian untuk memutuskan apa yang paling layak diperjuangkan, lalu menjaga keputusan itu dengan konsisten, bahkan ketika hasilnya baru akan dinikmati puluhan tahun kemudian.
Dan mungkin, pertanyaan yang sesungguhnya bukan lagi apakah Indonesia mampu membangun universitas kelas dunia atau melahirkan perusahaan teknologi besar.
Pertanyaannya jauh lebih mendasar. Apakah kita sudah sepakat bahwa membangun manusia adalah proyek kebangsaan yang tidak boleh ditunda?
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak akan dikenang karena gedung tertingginya, jalan raya terlebarnya, atau teknologi tercanggihnya. Ia akan dikenang karena pilihan yang dibuatnya tentang siapa yang paling pantas diberi harapan.
Dan saya pulang dari Hangzhou dengan keyakinan yang semakin kuat: masa depan tidak diwariskan kepada generasi berikutnya. Masa depan sedang kita anggarkan, kita ajarkan, dan kita bangun—atau kita abaikan—hari ini, saat ini. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
