Hangzhou (2): Teknologi untuk Menjawab Kebutuhan Sehari-hari
Foto ini diambil di salah satu pusat kota di Hangzhou, dan langsung terasa sekali bagaimana kota ini memadukan teknologi dengan kehidupan sehari-hari. Deretan sepeda berwarna-warni yang rapi di depan gedung itu bukan sepeda pribadi, tapi sepeda _bike-shar--Rina Juwita---
Lanjutan catatan perjalanan ke Hangzhou sebagai bagian rangakaian Program Global Symposium on University Governance for Academic Leaders yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia bekerja sama dengan Zhejiang University.
Oleh: Rina Juwita
Dosen FISIP UNMUL
PERJALANAN kemudian berlanjut menuju Yiwu, pusat perdagangan grosir yang terkenal di dunia. Hujan deras mengiringi perjalanan hampir dua jam. Di tengah perjalanan, pemandu kami bercerita mengenai berbagai kebijakan pemerintah daerah.
Lulusan universitas memperoleh subsidi untuk membantu biaya sewa apartemen sampai mereka dapat pekerjaan. Pelaporan administrasinya dilakukan cukup melalui aplikasi. Berbagai insentif diberikan agar penduduknya tetap tinggal, bekerja, dan hidup secara layak. Sebagian besar proses birokrasi sudah terdigitalisasi.
Saya tidak sempat memverifikasi setiap angka yang disampaikan. Namun satu hal yang sangat nyata dapat dirasakan selama berada di sana: pemerintah memang berusaha mengurangi beban administratif warganya melalui digitalisasi layanan.
Di Hangzhou, teknologi bukan dipamerkan. Teknologi dipakai. Dan dipakai setiap hari. Setiap saat. Itulah mengapa kota ini sering disebut sebagai salah satu laboratorium terbesar transformasi digital di Tiongkok.
Sistem pembayaran digital, layanan publik berbasis aplikasi, hingga pengelolaan lalu lintas menggunakan kecerdasan buatan telah menjadi bagian kehidupan masyarakat sehari-hari.
Sore harinya kami tiba di Yiwu International Trade Market. Pasar Yiwu bukan sekadar pusat perbelanjaan. Ia adalah wajah lain dari Tiongkok. Jantung perdagangan grosir dunia. Bagi siapa pun yang pernah mendengar istilah “Made in China”, kemungkinan besar sebagian besar barang itu pernah melewati kota ini.
Baca Juga: Hangzhou (1): Kota yang Membuat Masa Depan Terasa Biasa
Elektronik, fesyen, perlengkapan rumah tangga, hingga berbagai inovasi terbaru memenuhi blok-blok perdagangan yang seolah tidak ada habisnya. Pembeli datang dari berbagai negara. Ada yang berbicara bahasa Arab, Afrika, Rusia, hingga Asia Tenggara. Semua bertemu di tempat yang sama karena satu alasan: efisiensi.
Namun, lagi-lagi, yang membuat saya berpikir bukanlah murahnya harga barang. Melainkan kecepatan mereka membangun ekosistem.
Di jalan raya kota ini, kami melihat berbagai merek kendaraan listrik lokal. Sebagian sudah masuk Indonesia, sebagian lainnya bahkan belum pernah saya dengar. Xiaomi, Geely, BYD, hingga berbagai nama yang bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya.
Inovasi tampaknya tidak menunggu sempurna. Ia lahir, diuji, diperbaiki, lalu berkembang dengan sangat cepat. Masyarakat menjadi bagian dari proses itu, bukan sekadar konsumennya.
Teknologi di sini berkembang bukan untuk menunjukkan kecanggihan. Tetapi untuk menjawab kebutuhan sehari-hari. Mungkin di situlah letak pelajaran terbesar dari Hangzhou. Kota ini tidak berlomba menjadi kota paling futuristik. Ia hanya berusaha membuat hidup warganya sedikit lebih mudah, lebih nyaman, setiap hari.
Baca Juga: Tugu Penjaga Ingatan
Menjelang malam, saya menyadari bahwa dua hari pertama di Hangzhou memang belum diisi oleh kunjungan ke universitas atau perusahaan teknologi. Namun justru dari jalanan, restoran, kebun teh, dan pasar grosir itulah saya mulai memahami kota ini.
Kemajuan ternyata tidak selalu hadir dalam bentuk yang spektakuler. Kadang ia hadir sebagai trotoar yang nyaman. Sebagai teh yang tetap mempertahankan rasa aslinya. Sebagai ruang hijau yang tidak tergeser oleh beton. Sebagai teknologi yang bekerja tanpa perlu banyak dipamerkan.
Dan ternyata, ketika itu dilakukan secara konsisten selama bertahun-tahun, hasilnya adalah sebuah kota yang hari ini menjadi salah satu pusat inovasi paling penting di dunia.
Dan mungkin, di situlah letak pelajaran pertama yang saya bawa pulang dari Hangzhou. Peradaban tidak dibangun oleh inovasi yang paling canggih, melainkan oleh kebiasaan-kebiasaan kecil yang terus dipelihara hingga akhirnya menjadi budaya. Ketika sebuah kota berhasil menjadikan kemajuan sebagai sesuatu yang terasa biasa, mungkin pada saat itulah kota dan masyarakatnya benar-benar telah melangkah jauh ke depan. (Bersambung)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
