Dalam konsolidasi tersebut, Pemkot Samarinda menetapkan empat pilar utama penanganan, yakni pencegahan karhutla, jaminan pasokan air bersih, pengendalian inflasi daerah serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana setelah kemarau.
Menurut Marnabas, kesiapsiagaan pasca-kemarau perlu dipersiapkan sejak sekarang. Perubahan kondisi cuaca dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi ketika hujan dengan intensitas tinggi kembali terjadi setelah periode kering yang panjang.
BACA JUGA:Australia Wajibkan Google, Meta hingga TikTok Bayar Iuran ke Media Lokal
“Langkah antisipasi pasca-bencana penting disiapkan dari sekarang guna mengantisipasi risiko banjir besar pasca-kemarau panjang, agar kejadian kelam seperti jebolnya Bendungan Benanga tahun 1998 tidak terulang,” ujar Marnabas.
Berdasarkan paparan BMKG, indeks ENSO tercatat sebesar +2,77 dengan anomali suhu permukaan laut Pasifik mencapai 2,18. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pemerintah dalam menyusun langkah mitigasi terhadap potensi dampak El Niño.
Di Samarinda, BPBD mencatat 72 kasus karhutla dengan luas area terbakar mencapai sekitar 90 hektare. Dari keseluruhan kejadian tersebut, sekitar 99 persen kasus disebut dipicu oleh faktor kelalaian manusia.