Bankaltimtara

Karhutla Bontang Meningkat, Bontang Selatan Catat Kasus dan Lahan Terbakar Terluas

Karhutla Bontang Meningkat, Bontang Selatan Catat Kasus dan Lahan Terbakar Terluas

Petugas memadamkan lahan yang terbakar di Bontang.-Michael Fredy Yacob-

BONTANG, NOMORSATUKALTIM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Bontang kembali meningkat sepanjang Agustus 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang mencatat sebanyak 17 kejadian karhutla selama bulan ini, dengan Kecamatan Bontang Selatan menjadi wilayah yang paling banyak ditemukan titik kebakaran.

Secara kumulatif, sejak Januari hingga Agustus 2026, BPBD Kota Bontang mencatat 26 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 25,747 hektare.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Rehabilitasi BPBD Kota Bontang, Ismail Abdullah, mengatakan Bontang Selatan menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian dan luas lahan terbakar terbesar.

Dari total 26 kejadian tersebut, sebanyak 13 kejadian terjadi di Kecamatan Bontang Selatan dengan luas lahan terbakar mencapai 15,229 hektare.

BACA JUGA: Jangan Hanya Protes, DPR Minta Malaysia dan Singapura Ikut Cegah Karhutla di Indonesia

Sementara itu, Kecamatan Bontang Barat mencatat 9 kejadian karhutla dengan total lahan terbakar seluas 6,11 hektare. Adapun Kecamatan Bontang Utara mengalami 4 kejadian dengan luas lahan terbakar mencapai 4,48 hektare.

“Jumlah tersebut belum termasuk hari ini. Itu baru data terakhir kemarin. Mudah-mudahan hari ini tidak ada kejadian kebakaran hutan lagi,” ujar Ismail saat dihubungi, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Menurut Ismail, meningkatnya kasus karhutla di Bontang berkaitan erat dengan kondisi cuaca dan musim kemarau yang menyebabkan vegetasi serta lahan menjadi semakin kering.

Ia menyebut awal musim kemarau di Bontang biasanya dimulai sekitar pertengahan Juni dan dapat berlangsung selama tiga hingga empat bulan. Memasuki Agustus hingga September, kondisi vegetasi semakin kering, sementara kelembapan udara menurun.

BACA JUGA: PT Berau Coal Perkuat Penanganan Karhutla di Berau, ERG Terjun Bersama Tim Gabungan

Situasi tersebut membuat api lebih mudah muncul dan menyebar, terutama ketika disertai angin kencang.

“Kalau musim kemarau dimulai pertengahan Juni dan berlangsung tiga sampai empat bulan, maka September menjadi puncaknya,” katanya.

Lahan semak, ilalang, hingga kawasan gambut yang mengering menjadi lebih rentan terbakar. Percikan api kecil, puntung rokok, maupun aktivitas pembakaran sampah yang tidak diawasi juga berpotensi memicu kebakaran.

Meski tidak menutup kemungkinan adanya kebakaran yang dipicu aktivitas manusia, BPBD Bontang belum dapat memastikan adanya unsur kesengajaan dalam setiap kejadian karhutla.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: