Sebagai bagian dari persiapan operasional, Otoritas Bandar Udara Wilayah VII telah mengusulkan pembukaan rute penerbangan perintis Rantau Panjang–Samarinda pulang pergi pada Tahun Anggaran 2027 dengan frekuensi satu kali setiap pekan.
Usulan itu diharapkan menjadi langkah awal agar ketika bandar udara siap beroperasi, layanan penerbangan dapat segera tersedia dan dimanfaatkan masyarakat.
Pembangunan Bandara Rantau Panjang sendiri direncanakan dilakukan secara bertahap.
Pada tahap akhir pengembangannya, bandar udara tersebut ditargetkan mampu melayani operasional pesawat berbadan sempit seperti Airbus A320 maupun Boeing 737-800.
BACA JUGA:Jalan Soekarno-Hatta Makin Sibuk karena IKN, Satlantas Balikpapan Kewalahan Amankan Titik Rawan
Ferdinan menilai perpindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur menjadi momentum untuk memperkuat jaringan transportasi udara di daerah.
"Seiring proses perpindahan Ibu Kota Negara ke Kalimantan Timur, pengembangan infrastruktur transportasi udara harus mampu mengikuti laju pertumbuhan ekonomi sehingga seluruh bandar udara di Kaltim dapat saling mendukung dalam membentuk jaringan konektivitas yang terintegrasi," pungkasnya.
Sebagai informasi, Bandara Rantau Panjang dibangun di atas lahan seluas sekitar 213 hektare. Namun untuk penganggaran masih dalam tahap penantian kepastian penentuan skema pembiayaan dan pos anggaran dari pemerintah pusat.