Menanti Pendidikan Bermutu di Pinggir Negeri

Jumat 12-06-2026,19:00 WIB
Oleh: Tri Romadhani

BACA JUGA:Refleksi Profesi Menuju Konferkab PWI Paser 2026-2029

Lingkungan belajar yang layak memiliki dampak psikologis yang besar bagi siswa maupun guru.

Anak-anak akan memiliki semangat belajar lebih tinggi ketika mereka merasa sekolah menjadi ruang yang aman dan nyaman, sementara guru juga dapat mengajar dengan lebih optimal tanpa dihantui persoalan fasilitas yang buruk.

Namun demikian, revitalisasi tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Pemerintah perlu memastikan adanya pengawasan yang ketat terhadap kualitas pembangunan agar tidak terjadi proyek asal selesai, penyimpangan anggaran, atau pembangunan yang tidak sesuai kebutuhan daerah.

Selain itu, revitalisasi harus dibarengi dengan pemerataan guru, penguatan perpustakaan, laboratorium, dan fasilitas sanitasi sehingga sekolah benar-benar mampu menjadi pusat pembelajaran yang berkualitas.

Pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti yang menegaskan bahwa revitalisasi diprioritaskan bagi sekolah terdampak bencana, wilayah 3T, dan sekolah dengan kerusakan berat menunjukkan bahwa pemerintah mulai membaca persoalan pendidikan secara lebih realistis.

Selama ini, banyak kebijakan pendidikan terlalu terfokus pada perubahan kurikulum atau pendekatan administratif, padahal persoalan paling mendasar di lapangan justru berkaitan dengan kesenjangan fasilitas.

Selain pembangunan fisik, transformasi digital menjadi capaian lain yang menunjukkan arah baru pendidikan Indonesia.

BACA JUGA:Kaltim: Sepatu Sekolah yang Kekecilan vs Parade Hedonisme Pejabat yang Ugal-ugalan

Sebanyak 288.865 satuan pendidikan telah menerima perangkat digital berupa laptop, papan interaktif digital, dan media penyimpanan dengan tingkat realisasi mencapai 100 persen.

Capaian ini memperlihatkan bahwa pemerintah mulai memahami bahwa kesenjangan pendidikan di era modern bukan hanya persoalan gedung sekolah, tetapi juga ketimpangan akses teknologi.

Di tengah perkembangan dunia yang semakin terdigitalisasi, sekolah yang tidak memiliki akses teknologi akan semakin tertinggal dan sulit bersaing.

Kebijakan digitalisasi pendidikan sebenarnya memiliki dampak yang sangat besar apabila dijalankan secara tepat. Kehadiran perangkat digital memungkinkan proses belajar mengajar menjadi lebih interaktif dan fleksibel.

Guru dapat mengakses berbagai sumber pembelajaran, sementara siswa memiliki kesempatan mengenal teknologi sejak dini. Bagi daerah 3T, digitalisasi juga membuka peluang untuk memperluas akses pengetahuan yang sebelumnya sangat terbatas akibat kendala geografis.

Anak-anak di wilayah terpencil kini dapat mempelajari materi yang sama dengan siswa di kota besar melalui dukungan teknologi.

Namun demikian, digitalisasi pendidikan tidak cukup hanya berhenti pada pembagian perangkat. Persoalan terbesar di banyak daerah 3T justru terletak pada akses internet, pasokan listrik, dan kemampuan penggunaan teknologi.

Kategori :