SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Upaya Kalimantan Timur (Kaltim) mengejar target masuk tiga besar pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028, dinilai membutuhkan perubahan pola pembinaan olahraga.
Pemprov Kaltim mendorong agar pengurus cabang olahraga (cabor) lebih mandiri, dalam mengembangkan atlet dan mencari sumber pendanaan, seiring dengan menyusutnya kemampuan keuangan daerah dalam menopang kebutuhan olahraga prestasi.
Pandangan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Muhammad Faisal, saat menjadi narasumber dalam diskusi olahraga prestasi yang digelar Lembaga Kajian Olahraga (LeKOP) bersama KONI Kaltim, pada Selasa, 2 Juni 2026.
Faisal menyoroti tantangan yang dihadapi dunia olahraga Kaltim menjelang PON 2028.
BACA JUGA: Lebih dari 1.000 Pesepak Bola Muda Akan Bertanding di Liga Balikpapan
Menurut dia, perubahan kondisi fiskal daerah akan berpengaruh terhadap berbagai program pembangunan, termasuk pembinaan atlet dan dukungan terhadap organisasi olahraga.
Ia menjelaskan, kemampuan anggaran daerah saat ini tidak lagi sama seperti beberapa tahun terakhir. Penurunan penerimaan dari Dana Bagi Hasil (DBH) berdampak pada berkurangnya ruang fiskal pemerintah daerah untuk membiayai berbagai kebutuhan.
"APBD Provinsi Kaltim yang sebelumnya berada di kisaran Rp20 triliun hingga sempat menyentuh Rp25 triliun, kini turun menjadi sekitar Rp14 triliun akibat berkurangnya dana bagi hasil (DBH)," ungkap Faisal.
Diproyeksikan kondisi tersebut, masih akan berlanjut pada tahun mendatang. Proyeksi anggaran daerah menunjukkan tren penurunan, sehingga kebutuhan pembiayaan harus disesuaikan dengan kemampuan fiskal yang tersedia.
BACA JUGA: Modal 11 Emas dari Berau, FAJI Kutai Barat Target Pertahankan Gelar di Porprov 2026
Menurut Faisal, situasi itu perlu menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan olahraga.
Ketergantungan terhadap bantuan pemerintah melalui KONI, kata dia, dinilai tidak lagi menjadi pola yang ideal untuk menghadapi persaingan olahraga yang semakin ketat.
Ia pun mengajak setiap cabor mulai memperkuat sistem organisasi dan pembinaannya sendiri. Langkah tersebut mencakup pengembangan atlet, dukungan sponsor, penguatan manajemen organisasi, hingga penyusunan program pembinaan yang berkelanjutan.
"Artinya, kita harus mulai menyadari bahwa KONI bukan lagi satu-satunya sumber pendanaan untuk menciptakan prestasi olahraga di Kaltim," katanya.
BACA JUGA: PTMSI Paser Asah Kemampuan Atlet Lewat Tur Mini