KONI Kaltim Bikin Aplikasi Transparansi Anggaran untuk Semua Cabor
KONI Kaltim berencana membuat aplikasi transparansi anggaran yang bisa dilihat oleh cabor.-istimewa-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kaltim menyiapkan terobosan baru dalam tata kelola organisasi.
Yaitu membangun platform transparansi keuangan berbasis aplikasi.
Sistem tersebut akan membuka akses informasi penggunaan anggaran bagi seluruh cabang olahraga (cabor), mulai dari pengurus, pelatih, hingga atlet.
Melalui sistem itu, setiap cabor dapat mengetahui besaran dana yang diterima, rincian penggunaannya, hingga laporan pertanggungjawaban secara terbuka.
BACA JUGA:Anggaran KONI Kaltim Masih Menggantung, Pemprov Tunggu Hitung-hitungan Fiskal
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen kepengurusan baru KONI Kaltim dalam menciptakan organisasi yang profesional, akuntabel, dan mengedepankan keterbukaan kepada seluruh insan olahraga.
"Ke depan kami ingin menerapkan open management. Anggaran yang diterima masing-masing cabang olahraga akan dibuat transparan sehingga atlet, pelatih, dan pengurus bisa mengetahui alur penggunaannya," ujar Ketua Umum KONI Kaltim, Anderiy,pada Rabu 15 Juli 2026
Menurut Anderiy, keterbukaan pengelolaan anggaran menjadi langkah penting untuk membangun kepercayaan di lingkungan olahraga.
Selama ini masih kerap muncul pertanyaan maupun prasangka mengenai penggunaan dana pembinaan, sehingga sistem yang terbuka diharapkan mampu menjawab seluruh kebutuhan informasi secara objektif.
Anderiy menjelaskan, melalui platform tersebut seluruh pihak yang berkepentingan dapat memantau penggunaan anggaran berdasarkan data yang tersaji dalam aplikasi.
BACA JUGA:Pengurus KONI Kaltim Dilantik, Mulai Persiapan PON 2028
Dengan demikian, proses pengawasan tidak hanya dilakukan pengurus, tetapi juga melibatkan atlet dan pelatih sebagai penerima manfaat program pembinaan.
"Kalau nanti ada dana masuk untuk satu cabang olahraga, semua bisa melihat penggunaannya. Siapa yang menerima, dipakai untuk apa, semuanya terbuka."
"Jadi kalau ada yang tidak sesuai, bisa langsung dikoreksi berdasarkan data, bukan berdasarkan isu," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
