Dalam pemantauan, BPBD juga mengandalkan data satelit untuk mendeteksi titik panas. “Data satelit itu harus divalidasi. Bisa saja itu dari atap seng, aktivitas tambang, atau memang kebakaran lahan. Yang jadi fokus kami adalah lahan terbuka,” ucapnya.
BPBD kemudian menyebarkan informasi titik panas tersebut kepada pemerintah kabupaten/kota, untuk ditindaklanjuti melalui pemantauan langsung di lapangan.
“Kami juga akan melibatkan perusahaan, terutama yang memiliki konsesi lahan, agar melakukan mitigasi risiko secara mandiri,” kata Buyung.
Buyung mengungkap, cuaca di langit Kaltim dalam beberapa pekan terakhir memang panas. Dia menuturkan, kondisi ini kemudian memicu munculnya banyak titik panas.
BACA JUGA: BPBD Catat 51 Titik Panas di Berau, Waspada Karhutla!
Pada Sabtu (25/4/2026) terdeteksi 151 titik panas terbaru yang tersebar di enam kabupaten/kota, dengan rincian Kota Balikpapan (1), Kabupaten Paser (13), Kutai Barat (10), Kutai Timur (82), Kutai Kartanegara (37), dan Kabupaten Berau (8).
Peringatan ini, lanjutnya, disampaikan kepada warga agar tidak membakar sampah sembarangan karena bisa menyebabkan api merambat ke lokasi lain.
Serta tidak membuang puntung rokok yang masih membara agar tidak mengenai daun kering di hutan maupun di lahan perkebunan.
"Kami minta agar masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat menyebabkan munculnya titik api hingga menyebabkan kebakaran terjadi. Agar tidak ada lagi kerugian dan kerusakan lahan," pungkasnya.