JAKARTA, NOMORSATUKALTIM – Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pencak silat bukan sekadar cabang olahraga, melainkan cerminan jati diri dan karakter bangsa Indonesia yang sarat nilai luhur.
Hal tersebut disampaikan dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional XVI Ikatan Pencak Silat Indonesia yang digelar di Jakarta International Convention Center, dilansir dari Disway.id pada Minggu 12 April 2026.
Menurut Presiden, pencak silat merupakan bagian tak terpisahkan dari budaya Indonesia yang mengandung nilai-nilai kesatria, seperti keberanian, kehormatan, kerendahan hati, serta komitmen dalam membela kebenaran dan keadilan.
“Pencak silat itu bagian dari budaya kita dan pencak silat itu bagian daripada ilmu kesatria,” ujar Prabowo.
BACA JUGA:Pesta Gol di Stadion Segiri Samarinda, Borneo FC Bantai PSBS Biak dengan Skor 5-1
BACA JUGA:Gowes Surabaya-Jakarta Pakai Jersey Bajol Ijo, Presiden Persebaya Azrul Ananda Disambut Jakmania
Ia menekankan bahwa seorang pendekar tidak hanya dituntut memiliki kekuatan fisik, tetapi juga kekuatan jiwa, akhlak, serta keimanan.
Presiden juga mengingatkan pentingnya sikap rendah hati seiring dengan meningkatnya ilmu dan kemampuan seseorang.
“Ajaran guru-guru kita, semakin berisi, semakin menunduk. Ilmu kita adalah demikian. Kerendahan hati, bukan kerendahan diri. Kita hormat, sopan, santun, itu adalah budaya kita. Kesatria selalu membela kebenaran, membela yang lemah, yang tertindas, dan menegakkan keadilan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo turut menyoroti pentingnya kebanggaan terhadap budaya nasional di tengah derasnya arus globalisasi.
BACA JUGA:SMANSA Balikpapan Tembus Semifinal Rajawali Cup 2026, Masuk 4 Besar Nasional
BACA JUGA:Perang Aerodinamika MotoGP, Ducati Terang-terangan Adopsi Teknologi Rival
Ia mencontohkan kebiasaannya mengenakan pakaian tradisional dari berbagai daerah dalam momen kebangsaan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya.
Ia juga menyebut bahwa tradisi tersebut telah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden sebelumnya, Joko Widodo, sebagai simbol keberagaman dan kebanggaan nasional.
“Kita bangga pakai teluk belanga, kopiah, sarung, hingga songket. Itu budaya kita. Kita harus bangga dengan budaya sendiri,” jelasnya.