BERAU, NOMORSATUKALTIM - Ramainya kunjungan wisatawan selama libur Lebaran di Kabupaten Berau kembali menyoroti persoalan klasik: keterbatasan jaringan telekomunikasi di sejumlah destinasi wisata.
Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga menyulitkan komunikasi, akses informasi, hingga berbagi pengalaman perjalanan secara langsung.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Berau, Rahmatia, mengakui persoalan tersebut hingga kini masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
“Memang di beberapa daerah pariwisata itu belum ada jaringan. Itu tergantung dari provider, mereka itu mempertimbangkan untung ruginya, sedangkan tempat wisata itu saat-saat tertentu baru ramai pengunjung,” ujarnya, Kamis 26 Maret 2026.
BACA JUGA: Objek Wisata di Berau Belum Berikan Asuransi Keselamatan Bagi Pengunjung
BACA JUGA: 4.262 Wisatawan Menyeberang ke Derawan-Maratua dari Dermaga Sidayang, Tak Ada Antrean dan Penumpukan
Ia mencontohkan sejumlah destinasi seperti Danau Nyadeng dan Gua Bloyot di Kampung Merabu, Kecamatan Kelay yang hingga kini belum tersentuh jaringan seluler.
Minimnya aktivitas harian di kawasan tersebut membuat operator telekomunikasi enggan berinvestasi karena dinilai tidak menguntungkan secara bisnis.
“Contohnya juga tower di Kampung Batu Rajang, penduduknya itu tidak sampai seribu. Operator sampai mau bongkar dan pindahkan karena dianggap rugi. Apalagi di tempat wisata yang tidak tiap hari ramai,” katanya.
Selain faktor bisnis, kondisi geografis juga menjadi tantangan tersendiri. Sejumlah destinasi wisata di Berau berada di wilayah terpencil dengan akses terbatas, bahkan sebagian hanya dapat dijangkau melalui jalur air seperti wilayah Makam Tua dan Labuan Cermin.
BACA JUGA: Internet 5G Mulai Masuk Berau, Diskominfo Dorong Provider Perluas Jangkauan
BACA JUGA: Baru Terbang Empat Kali, Rute Wings Air Berau–Maratua Berhenti karena Sepi Penumpang
Kondisi tersebut, kata Rahmatia berdampak langsung pada pembangunan infrastruktur dasar, khususnya jaringan listrik yang menjadi penopang utama layanan telekomunikasi.
“Kalau tidak ada listrik, tentu tidak mungkin kita pasang wifi atau jaringan lainnya. Sementara PLN juga tidak bisa membangun jaringan di lokasi yang sulit dijangkau seperti di tengah hutan,” jelas Rahmatia.
Dia menjelaskan, Diskominfo sebenarnya telah berupaya menghadirkan layanan wifi gratis di sejumlah titik wisata.