“Telur ayam ini informasinya karena stok susu UHT habis, jadi sebagai pengganti,” tuturnya.
Selain itu, menu MBG Ramadan ini juga memperhatikan ketahanan makanan agar tetap layak konsumsi saat waktu berbuka tiba.
Bubur kacang hijau yang dibagikan sengaja diolah tanpa menggunakan santan.
“Hal ini dilakukan demi keamanan pangan, mengingat adanya jeda waktu antara pendistribusian dan waktu konsumsi,” jelas Sukarni.
Di samping itu, pihaknya mengakui bahwa program MBG ini membantu meringankan para siswanya. Ia menuturkan masih banyak anak didiknya yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.
Sehingga terkadang uang jajannya terbatas atau bahkan tidak ada uang jajan sama sekali.
“Saya melihatnya sangat terbantu ya untuk para siswa ini. Karena kebanyakan dari mereka yang sekolah di SMK ini kan harapannya agar cepat kerja, jadi dari kalangan menengah ke bawah, sehingga mungkin orang tuanya kurang mampu,” tambahnya.
Dalam implementasinya, pihak sekolah melibatkan organisasi kesiswaan secara penuh untuk memastikan seluruh warga sekolah mendapatkan haknya.
BACA JUGA:Banyak Titik Marka Memudar, DPRD Dorong Jalur Sepeda Balikpapan Jadi Sistem yang Terhubung
Proses penyaluran dari pusat distribusi ke masing-masing kelas dilakukan secara mandiri oleh siswa.
Guru Pembina OSIS SMKN 3 Balikpapan, Lusi, menegaskan bahwa tanggung jawab teknis di lapangan berada di bawah kendali pengurus OSIS.
“Penugasan MBG-nya memang anak OSIS, setelah itu kita salurkan ke semua kelas,” jelas Lusi.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan siswa ini sudah berlangsung sejak awal program MBG diluncurkan di sekolah tersebut.
Lusi juga menekankan pentingnya sistem ini untuk memastikan akuntabilitas distribusi.
BACA JUGA:Resmi! Ini Jadwal Sekolah Ramadan 2026 di Balikpapan dan Libur Idulfitri