"Walaupun garis kemiskinan naik, jumlah dan persentase penduduk miskin tetap menurun."
BACA JUGA:Rutan Balikpapan Over Kapasitas, 710 Penghuni Dipindahkan ke Lapas
"Ini menunjukkan adanya perbaikan kemampuan daya beli sebagian rumah tangga," jelas Marinda.
Selain itu, BPS juga mencatat adanya peningkatan pada dimensi lain kemiskinan.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) Kota Balikpapan pada Maret 2025 tercatat sebesar 0,34, naik 0,21 poin dibandingkan Maret 2024 yang sebesar 0,13.
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga meningkat menjadi 0,10 dari sebelumnya 0,01.
Indeks kedalaman kemiskinan menggambarkan rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Sementara indeks keparahan kemiskinan menunjukkan tingkat ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.
BACA JUGA:Rutan Balikpapan Over Kapasitas, 710 Penghuni Dipindahkan ke Lapas
Kenaikan kedua indeks tersebut mengindikasikan bahwa meskipun jumlah penduduk miskin berkurang, sebagian penduduk miskin masih berada cukup jauh di bawah garis kemiskinan.
BPS mencatat beberapa faktor yang mempengaruhi dinamika kemiskinan di Balikpapan pada periode Maret 2024 hingga Maret 2025.
Di antaranya inflasi Balikpapan pada Maret 2025 tercatat relatif terkendali sebesar 1,38 persen secara tahunan.
Di sisi lain, perekonomian Kota Balikpapan pada Triwulan I 2025 tumbuh sebesar 7,97 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi produksi, sektor tersier mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,87 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi akhir rumah tangga tumbuh sebesar 5,51 persen. Kondisi ini turut berkontribusi terhadap penurunan tingkat kemiskinan di Balikpapan.
Terkait metodologi, Marinda menegaskan bahwa penghitungan kemiskinan oleh BPS tidak mengalami perubahan signifikan dari tahun ke tahun.