Kejar Swasembada Daging, Pemkab Kutim Targetkan 100 Pedet Sapi lewat Program Sikomandan

Jumat 23-01-2026,14:18 WIB
Reporter : Sakiya Yusri
Editor : Baharunsyah

KUTIM, NOMORSATUKALTIM - Pemkab Kutim menjalankan Program Sapi Kerbau Komoditas Andalan Negeri (Sikomandan), demi memacu penguatan sektor peternakan sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada daging.

Pemkab Kutim targetkan lahirnya sedikitnya 100 ekor pedet, dari hasil rekayasa reproduksi pada tahun 2026.

Program ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan populasi ternak sapi dan kerbau lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan daging dari luar daerah.

Optimalisasi produksi ternak dinilai penting untuk menjaga stabilitas pangan dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat peternak.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah Ratnaningrum, melalui Pelaksana Tugas Kepala Bidang Peternakan, Cut Meutia, menyebut Sikomandan difokuskan pada pemanfaatan teknologi inseminasi buatan (IB), pada indukan produktif yang telah dimiliki peternak.

BACA JUGA:Upaya Pemkab Kutim Sejahterakan Petani Holtikultura: Berikan Bantuan dan Pendampingan

“Pendekatan yang kami lakukan adalah memaksimalkan potensi indukan lokal melalui inseminasi buatan, sehingga peningkatan populasi bisa dicapai tanpa harus mendatangkan bibit dari luar daerah,” ujar Cut Meutia.

Ia menjelaskan, penerapan IB secara masif diyakini mampu meningkatkan produktivitas ternak dalam waktu relatif singkat.

BACA JUGA:Terbengkalai Belasan Tahun, 2 Perumahan KORPRI di Kutim Nyaris Ditelan Semak Belukar

Selain itu, teknologi ini juga memberikan peluang perbaikan kualitas genetik sapi lokal agar lebih unggul dan adaptif terhadap kondisi lingkungan setempat.

Pelaksanaan program Sikomandan saat ini diprioritaskan di beberapa wilayah sentra peternakan, salah satunya Kecamatan Rantau Pulung.

Daerah tersebut dinilai memiliki potensi pakan dan sumber daya peternak yang cukup untuk mendukung keberhasilan program.

“Target kami adalah melihat hasil nyata dari indukan yang telah didistribusikan. Hingga akhir 2026, kami menargetkan kelahiran minimal 100 ekor anakan sebagai indikator keberhasilan program,” ungkapnya.

Menurut Cut Meutia, peningkatan populasi ternak lokal juga berdampak langsung pada stabilitas harga daging di pasaran, terutama menjelang hari besar keagamaan.

BACA JUGA:PLTS Komunal Rusak Akibat Disambar Petir, Warga Desa Pulau Miang Kutai Timur Gelap Gulita

Kategori :