Berau Dapat Bantuan Bibit Kakao dan Kelapa 200 Hektare, Disbun Mulai Jaring Petani

Jumat 23-01-2026,12:00 WIB
Reporter : Rizal
Editor : Hariadi

“Banyak kelapa di Biduk-Biduk dan Maratua sudah berumur di atas 30 tahun, tinggi, dan sulit dipanen. Karena itu kami dorong kelapa genjah yang cepat berbuah dan lebih mudah dikelola,” ucap Lita.

BACA JUGA: Kakao Berau Tembus Pasar Prancis, Disbun Pastikan Bebas Deforestasi dan Cemaran Kimia

BACA JUGA: Setelah Kakao Berjaya, Berau Kini Pasang Target Besar pada Kopi Liberika

Jenis kelapa yang diusulkan adalah kelapa genjah entok, yang mulai berproduksi pada usia sekitar 3 tahun. Tanaman ini juga dapat ditanam dengan sistem tanam sela tanpa harus langsung menebang kelapa lama.

Selain penguatan di sektor hulu, Pemkab Berau juga mendorong pengembangan hilirisasi komoditas kakao dan kelapa sesuai arahan Rakernas APKASI.

“Kelapa bisa diolah jadi minyak goreng, sabun, cocopeat, sampai kerajinan. Kakao juga sudah kita tetapkan di beberapa desa sebagai sentra pengolahan cokelat. Jadi bantuan ini tidak berhenti di hulu, tapi kita dorong sampai hilir,” tuturnya.

Lita menambahkan, kebutuhan kelapa untuk konsumsi dan industri lokal di Berau masih belum terpenuhi, sehingga peluang pasar dinilai masih terbuka luas.

BACA JUGA: Berau Susun Roadmap Kelapa dan Kakao, Fokus Hilirisasi hingga Peluang Investasi

BACA JUGA: Saenuddin, Perantau Sulawesi yang Sukses Budidayakan Kakao di Berau

“Kalau ekspor itu nanti. Sekarang yang penting petani konsisten dulu mengelola kebun. Pasarnya di daerah saja masih terbuka lebar,” imbuhnya.

Pemkab Berau menargetkan realisasi bantuan bibit kakao dan kelapa dapat dilaksanakan pada 2026 sesuai komitmen Kementerian Pertanian.

“Kuncinya sekarang ada di kesiapan petani dan dukungan kampung. Kalau masyarakat mau, pemerintah siap mengawal,” pungkasnya.

Kategori :