Kaltim Bisa Tiru Sumsel soal Hilirisasi Samarinda, DiswayKaltim.com - Tingginya ketergantungan perekonomian Kaltim terhadap sektor pertambangan berisiko menyebabkan kontraksi perekonomian Kaltim. Hal ini disebabkan fluktuasi harga batu bara yang terus melandai hingga beberapa waktu ke depan. Serta ketidakpastian kondisi permintaan dari negara tujuan ekspor utama. Seperti Tiongkok, India, dan negara - negara ASEAN. Sementara, pergerakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim sangat tergantung dengan pergerakan harga batu bara acuan (HBA). Sehingga, dengan tren penurunan HBA saat ini akan berpengaruh pada kinerja korporasi yang bergerak pada sektor pertambangan. "Harga batu bara memang melandai di tahun ini. Tapi kami melihat pertumbuhan Kaltim masih positif. Meskipun melambat, tapi tidak sampai kontraksi," ujar Tutuk Setya Hadi Cahyono, kepala Kpw BI Kaltim. Begitu pula dengan sektor migas. Terjadi ancaman natural decline atau penurunan produksi secara alamiah karena sumur-sumur sudah tua. "Memang ditemukan sumur baru. Pertanyaannya apa bisa sumur baru itu menggantikan yang natural decline? Kalau tidak bisa menutupi itu maka hasilnya terjadi penurunan," sambung Tutuk. Oleh karena itu, pemerintah mendorong Pertamina untuk menemukan sumur-sumur baru di luar Indonesia. Dengan membeli atau mengakuisisi perusahaan di luar negeri. Supaya menjadi ladang baru impor migas ke dalam negeri. "Jadi melihat data impor hati-hati. Impor minyak belum tentu jelek. Kalau itu punya Pertamina dibawa pulang ke sini emang dicatatnya harus impor," katanya. Untuk mengurangi risiko kontraksi ekonomi regional dari sektor batu bara, Tutuk menyebut salah satu caranya adalah membangun hilirisasi. Hilirisasi batu bara perlu dilakukan sebagai salah satu solusi dalam memberikan nilai tambah pada komoditas ini. Di Indonesia sendiri, hilirisasi batu bara sudah di lakukan di Sumatera Selatan. Ada pun hilirisasi batu bara bisa diolah menjadi sumber energi terbarukan. Seperti liquid coal, coal gas, dan amoniak. Untuk wilayah Kalimantan, proyek hilirisasi masih dalam tahap upgrading produksi kokas batu bara. Dengan kapasitas produksi mencapai 4 juta ton per tahun. Kokas batu bara (coking coal) Kaltim diharapkan dapat memenuhi permintaan domestik mau pun ekspor. "Yang perlu kita siapkan, tentu investornya yang mau masuk ke sana. Kita cari mereka maunya apa, ESG (Environmental, Social and Governance, rRed) kita siapkan," ujar Tutuk. Ia pun menegaskan Kaltim harus detail melihat peluang tersebut. Agar tidak terus- menerus mengekspor komoditas mentah. Tutuk mengatakan ia mendukung penuh langkah pemprov yang akan membentuk tim khusus terkait pembahasan hilirisasi industri. BI sendiri, sudah memiliki Regional Investment Relation Unit (RERU) yang mengkaji masalah investasi Kaltim. "Apalagi dengan adanya omnibus law nanti, diharapkan bisa memperbaiki investasi," pungkasnya. (krv/eny)
Batu Bara dan Migas Berisiko Kontraksi
Jumat 13-03-2020,20:14 WIB
Reporter : Benny
Editor : Benny
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 28-08-2026,06:00 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 28 Agustus 2026, Cek di Sini!
Jumat 28-08-2026,07:01 WIB
Logika Merdeka Bernegara (4-Terakhir): Manajemen Titik Nol
Jumat 28-08-2026,08:00 WIB
Hujan Tipis Belum Akhiri Kemarau di Samarinda: Lahan Kering, Sumber Air Menyusut
Jumat 28-08-2026,08:00 WIB
Intip Gaya Centyl Naykilla, dari Face Sticker hingga Statement Belt di Shopee 9.9
Jumat 28-08-2026,11:00 WIB
2 Gunung Api di Indonesia Erupsi, Lewotobi Semburkan Abu 1 Km, Semeru Gempa 21 Kali
Terkini
Jumat 28-08-2026,23:30 WIB
Izan Guevara Resmi Naik Kelas ke MotoGP 2027, Gantikan Jack Miller di Pramac Yamaha
Jumat 28-08-2026,23:00 WIB
Polda Metro Jaya Tetapkan 45 Tersangka Kerusuhan di Sekitar DPR/MPR
Jumat 28-08-2026,22:58 WIB
Lagu Midnight Sun Milik Zara Larsson Viral di Medsos, Ini Lirik dan Terjemahan Bahasa Indonesia
Jumat 28-08-2026,22:32 WIB
Kementerian Pariwisata Turun Tangan Pulihkan Desa Adat Sade Pascakebakaran
Jumat 28-08-2026,22:25 WIB