Ia juga menyisipkan nilai-nilai etika rias dalam konteks budaya lokal.
“Makeup yang baik itu bukan yang paling tebal, tapi yang paling tepat,” tegas Mery.
Sejumlah peserta tampak antusias mengikuti setiap arahan. Salah satunya Mutia, finalis asal Barong Tongkok.
Ini kali pertama ia mengikuti beauty class secara formal. Baginya, pelatihan ini membuka cara pandangnya terhadap dunia tata rias.
“Saya kira selama ini makeup itu sekadar dandan saja. Ternyata banyak hal yang harus kita pahami. Dari warna kulit, teknik blending, sampai cara membuat tampilan tetap cocok untuk acara budaya,” kata Mutia.
BACA JUGA:Jangan Takut Kolestrol, 8 Minuman Ini Bisa jadi Teman yang baik Saat Konsumsi Daging Kurban
Selama ini, Mutia hanya mengandalkan tutorial daring untuk berdandan.
Kini, dengan bimbingan langsung dan suasana belajar kolektif, dia merasa lebih percaya diri tampil di berbagai kegiatan yang mengusung nilai budaya.
“Kita sebagai finalis harus bisa jadi contoh, termasuk dalam penampilan. Tapi bukan berarti berlebihan. Justru kita diajarkan untuk bijak memilih gaya rias sesuai nilai budaya,” ucapnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Barat, Seki, turut memantau pelatihan sejak awal.
Ia menilai, pelatihan tata rias ini bukan semata ingin membuat finalis tampil menarik, melainkan memberi bekal komunikasi nonverbal yang halus dan kontekstual.
“Penampilan itu bagian dari narasi budaya. Saat seseorang tampil rapi dan sesuai acara, ia sedang menyampaikan pesan: bahwa ia menghormati tradisi dan siap menjadi representasi,” kata Seki.
BACA JUGA:Ikuti Cara Ini Agar Makin Nempel dengan Pasangan Saat Akhir Pekan
Menurutnya, beauty class merupakan pelengkap dari rangkaian pelatihan lainnya mulai dari wawasan kebudayaan, komunikasi publik, hingga etika panggung.
“Sebagai duta budaya, mereka akan hadir di banyak forum, nasional bahkan internasional. Maka pemahaman tentang penampilan yang tepat ini menjadi bagian dari persiapan diplomasi budaya,” lanjutnya.
Pembekalan ini, tambah Seki, masih akan berlangsung hingga 13 Juli.