TANJUNG SELOR, DISWAY - Jumlah penduduk miskin di Kaltara mencapai 48,61 ribu jiwa atau 6,49 persen dari total jumlah penduduk pada September 2019. Dibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2019 sebesar 48,78 ribu jiwa (6,63 persen), maka jumlah penduduk miskin secara absolut turun 0,2 ribu orang atau berkurang 0,14 persen. Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara tentang tingkat kemiskinan September 2019 Kaltara, Kamis (16/1) mengatakan, hal tersebut cukup menggembirakan. Karena terbukti keberadaan Provinsi Kaltara lewat sejumlah kebijakannya mampu mengurangi angka kemiskinan. “Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan. Sebab, selain harus mampu memperkecil jumlah penduduk miskin, kebijakan pengentasan kemiskinan juga sekaligus harus bisa mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan,” jelas Irianto. Tercatat, pada periode Maret hingga September 2019, indeks kedalaman kemiskinan (P1) mengalami penurunan, begitu pula indeks keparahan kemiskinan (P2) juga mengalami penurunan. Terdata, P1 turun dari 1,157 pada keadaan Maret 2019 menjadi 1,122 pada keadaaan September 2019. Sementara P2 turun dari 0,309 menjadi 0,269 pada periode September 2019. “Menurut analisas BPS, nilai P1 dan P2 di daerah perdesaan lebih tinggi daripada perkotaan. Pada bulan September 2019, nilai P1 untuk perkotaan hanya 0,772 sementara di daerah perdesaan mencapai 1,660. Nilai P2 untuk perkotaan hanya 0,167 sementara di daerah perdesaan mencapai 0,425,” beber gubernur seperti dirilis Humas Pemprov Kaltara. Disamping itu, jumlah penduduk miskin juga dipengaruhi oleh garis kemiskinan. Dijelaskan Irianto, selama Maret hingga September 2019, Garis Kemiskinan naik sebesar 2,52 persen, yaitu dari Rp 651.416 per kapita per bulan pada Maret 2019 menjadi Rp 667.833 per kapita per bulan pada September 2019. “Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Non-Makanan (GKNM), terlihat bahwa peranan komoditi makanan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan). Pada September 2019, sumbangan GKM terhadap GK sebesar 73,22 persen,” ungkap Irianto. Menurunnya angka kemiskinan itu, menurut Gubernur juga dipengaruhi oleh membaiknya iklim investasi. Dimana, investasi yang sudah terealisasi mampu menyerap tenaga kerja lokal yang ada. “Sesuai data DPMPTSP, jumlah tenaga kerja lokal baik di sektor PMDN maupun PMA masih jauh lebih besar ketimbang tenaga kerja asing,” tutup Irianto. (*)
Penduduk Miskin Turun
Jumat 17-01-2020,15:36 WIB
Reporter : admin3 diskal
Editor : admin3 diskal
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 03-11-2026,18:30 WIB
Akses Tol IKN Disetujui dengan Syarat, Kontingen Porprov Kaltim Bisa Melintas 5–28 November
Rabu 04-11-2026,06:01 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 4 November 2026, Cek di Sini!
Selasa 03-11-2026,21:11 WIB
3 Orang Jadi Tersangka Kasus Batu Bara Varia Niaga, Wali Kota Samarinda Andi Harun Tunggu Proses Hukum
Selasa 03-11-2026,20:45 WIB
Listyo Sigit Jadi Tersangka Bersama 2 Jenderal, Diduga Melakukan Penyadapan Terhadap Presiden
Selasa 03-11-2026,20:23 WIB
Pemeriksaan Pintu Masuk Mako Brimob Depok Makin Diperketat Usai Isu Penangkapan Jenderal LSP
Terkini
Rabu 04-11-2026,16:37 WIB
DPMK Mahulu Minta Semua Kampung Percepat Pengajuan Anggaran
Rabu 04-11-2026,16:13 WIB
Tagih Janji Pakta Integritas, GERAM Kembali Geruduk Kantor Gubernur Kaltim
Rabu 04-11-2026,15:47 WIB
Bupati Paser Laporkan Kesiapan Porprov ke Gubernur Kaltim, 8.709 Atlet Lolos Verifikasi
Rabu 04-11-2026,15:06 WIB
Inflasi Kaltim Oktober 2026 Melandai, Harga Pangan Juga Ikut Turun
Rabu 04-11-2026,14:46 WIB