MENJADI apoteker, tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Ramadhani Susilawati. Namun, setelah mendapat dorongan dari kedua orangtuanya, barulah ketertarikan terhadap dunia farmasi muncul dalam dirinya. "Memang waktu itu orangtua ingin saya terjun ke dunia kesehatan," ujarnya membuka cerita, Selasa (3/12). Sejak permintaan orangtuanya, wanita berusia 25 tahun itu, melanjutkan pendidikan ke Universitas Mulawarman, dengan mengambil strata 1 untuk apoteker. Setelah mengenal dunia farmasi atau apoteker, Ia mengaku mendapatkan suatu kesenangan, dan kini menjadi pekerjaan rutinitasnya. "Ternyata dunia farmasi atau apoteker sangat menyenangkan," kata wanita yang akrab disapa Susi itu. Dara kelahiran Tanjung Redeb, 26 Februari 1994 ini menyebut, apoteker seperti secangkir kopi. "Apoteker itu kayak kopi, kerjaannya bikin nagih. Sekali nyemplung bikin nagih, hingga sekarang," terang wanita yang gemar menyanyi dan membaca buku ini. Anak ke-6 dari 8 bersaudara pasangan Jamaluddin dan Kesumawati (alm) ini, memang ada beberapa pertanyaan yang kerap dilontarkan teman-temannya saat memiliki jurusan apoteker. Ia pun menjelaskan, mengapa dia lebih tertarik di dunia farmasi ketimbang memilih jurusan keperawatan, bidan, hingga dokter. Dunia kesehatan lanjut dia, baik dokter, perawat, dan apoteker saling berkesinambungan. Apalagi di rumah sakit. Tetapi, karena dia bekerja di bidang farmasi komunitas, ia pun lebih sering berhadapan langsung dengan pasien. "Dan itu mnyenangkan ketika kamu dengar keluh kesah pasien (curhatan pasien) jadi pendengar yang baiklah untuk pasien," terang lulusan SMPN 4 Tanjung Redeb ini. Susi juga menjelaskan, bahwa pekerjaan seorang apoteker juga sangat membantu masyarakat yang sedang sakit. Ia pun mengaku bangga jika ada obat racikannya bisa membantu kesembuhan pasien. Alumni SMA 7 Berau ini menjelaskan, ada keistimewaan seorang apoteker dibanding bidang lainnya di dunia kesehatan. Hal itu kata dia, apoteker seorang yang ahli dan paling ahli soal obat. Kendati demikian, ada beberapa pasien yang awam terhadap profesi apoteker atau farmasis, dan meragukan kemampuannya dalam meracik obat. Bahkan ada beberapa pasien seorang apoteker pekerjaannya hanya menjual obat di setiap apotek. "Padahal yang bikin obat itu farmasis (apoteker), yang jual obat juga farmasi, dan yang nyerahin obat ke pasien juga farmasis. Jadi yang sudah pasti tahu, ya farmasis itu," jelasnya sambil tertawa. Wanita yang sudah sekitar 2 tahun bekerja di Kimia Farma Apotek ini juga menyebutkan, tidak ada hal serius yang dihadapi. Hanya saja ia mengaku, melayani pasien yang masih meragukan kemampuan farmasis merupakan salah satu tantangan tersendiri baginya. Meskipun sudah diberikan penjelasan lengkap tentang tugas seorang apoteker seperti dirinya. "Ini termasuk cita-cita saya juga, ingin memperkenalkan apa sih apoteker itu ke khalayak ramai," pungkasnya. (*ZZA/APP)
Berkat Dorongan Orangtua
Rabu 04-12-2019,13:24 WIB
Reporter : admin3 diskal
Editor : admin3 diskal
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 17-03-2026,09:00 WIB
DPRD Kaltim Akan Evaluasi Anggaran Tim Ahli Gubernur
Selasa 17-03-2026,08:30 WIB
Polres Kutim Pastikan Layanan 110 Siaga 24 Jam Selama Arus Mudik Lebaran 2026
Selasa 17-03-2026,09:30 WIB
Polres PPU Fasilitasi Penitipan Kendaraan Gratis, Warga Bisa Mudik Tanpa Khawatir
Selasa 17-03-2026,12:00 WIB
Cara Aman Titip Kendaraan Gratis di Bontang saat Mudik Lebaran, Simak Langkahnya
Selasa 17-03-2026,14:18 WIB
Speed Sadewa Marine Resmi Berlayar, Berau–Tarakan Kini Cuma 3 Jam
Terkini
Rabu 18-03-2026,08:00 WIB
Sopir Angkutan Umum di Paser Dites Urine, Pastikan Keselamatan Penumpang saat Mudik Lebaran
Rabu 18-03-2026,07:00 WIB
Kendalikan Inflasi Jelang Lebaran, Pemkab Berau Gelar Pangan Murah hingga Operasi LPG
Rabu 18-03-2026,06:00 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 18 Maret 2026, Cek di Sini!
Selasa 17-03-2026,22:49 WIB
Alokasi Anggaran Pendidikan untuk MBG Digugat ke MK, CALS Mengajukan Diri sebagai Pihak Terkait
Selasa 17-03-2026,22:32 WIB