Proses pencantingan motif batik Berau.(FERY SETIAWAN) Tidak ingin kalah saing dengan perkembangan kerajinan batik luar daerah. Pembatik Berau, terus berinovasi motif dan pengolahan, hingga bisa bernilai jual tinggi . FERY SETIAWAN, Tanjung Redeb MENGEMBANGKAN kerajinan batik tulis terus digaungkan di Bumi Batiwakkal. Perkembangan zaman yang menganggap batik adalah suatu produk yang kuno, membuat pengrajin batik terus melakukan inovasi tren batik Berau ke kalangan milenial. Syharil Darmawi, instruktur batik yang didatangkan langsung dari Samarinda ini untuk pelatihan membatik di Berau, mengajak masyarakat terlibat langsung dalam pembuatan kain batik. Kerajinan kain batik yang dilakukan di ruang pertemuan kantor lurah Tanjung Redeb Kamis (28/11), memberikan dampak positif dan dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. "Di kegiatan ini, peserta di bebaskan untuk membuat pola sesuka hati mereka, tapi tidak terlepas dengan identitas Kabupaten Berau,"katanya kepada DiswayBerau. Dalam mengembangkan kerajinan batik, Syahril tak sendiri. Melainkan, bersama warga yang tergabung dalam kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Banuanta. "Ada batik cap dan batik tulis, sekarang sudah cukup dikenal,"akunya. Hasil karyanya bersama Pokdarwis Banuanta, sudah mulai dihargai. Khusus batik cap dijual sekitar Rp 200.000 per potong kain, sedangkan batik tulis sekitar Rp 350.000. Bukan hanya itu, dalam kegiatan tersebut, dirinya berhasil membantu masyarakat untuk membuat bantal kecil yang bermotif khas Bumi Batiwakkal. “Kalau harga bantal sendiri itu kisaran Rp 90.000 sampai Rp 100.000,”ujarnya. Disebutkannya, batik dengan motif biota laut sekarang yang menjadi karya unggulan yang sedang dicanangkan untuk ditampilkan. "Saya rasa untuk harga batik motif hiu, penyu, dan ubur-ubur itu bisa jual dengan harga Rp 400.000 sampai Rp 500.000," katanya. Lanjutnya, dalam kegiatan ini, diikuti oleh 20 orang pembuat batik. Bukan hanya kaum wanita, dalam kegiatan tersebut tampak pula beberapa orang pria yang sedang mencoba menggoreskan lilin panas di atas motif kain. "Siapapun yang ingin belajar itu dipersilakan, jadi jangan kira membatik ini hanya untuk kaum wanita saja. Pria juga bisa kalau memang ada kemauan,"ucapnya. Diungkapkannya, kerajinan masyarakat ini telah berkembang dan memiliki banyak motif. Adapun motif batik yang menjadi produk andalan adalah batik Rutun dan Whale shark. "Saya yakin batik ini akan menjadi identitas bagi masyarakat Berau," ucapnya. Lanjutnya, dengan adannya kegiatan positif seperti ini, akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap perekonomian warga. Di beberapa daerah, peningkatan penghasilan cukup banyak dirasakan oleh warga, pendapatan warga dalam penjualan kain batik per bulan bisa mencapai Rp 1.000.000 hingga Rp 1.500.000. Hasil karya batik warga ini, nantinya akan diserahkan kembali kepada masyarakat setelah mereka berhasil menyelesaikan kain batik tersebut dan menampilkannya di muka umum.(*/app)
Incar Pasar Milenial, Motif Terus Berinovasi
Jumat 29-11-2019,12:22 WIB
Reporter : admin3 diskal
Editor : admin3 diskal
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Senin 01-06-2026,13:02 WIB
Hasil TKA Jeblok karena Literasi Rendah: MBG bukan Solusi!
Senin 01-06-2026,22:20 WIB
DPRD Kutai Barat Soroti Rendahnya Hasil Plasma PT ARI, Minta Pemerintah Hentikan Pembiaran
Senin 01-06-2026,13:34 WIB
Polsek Rantau Pulung Tangkap Pengedar Sabu di Kediamannya
Senin 01-06-2026,22:45 WIB
Tanggapi Banyaknya Guru Pensiun, PGRI Kukar Dorong Pemkab Buka Rekrutmen Guru ASN
Selasa 02-06-2026,06:01 WIB
Ramalan Cuaca Kaltim dan IKN, 2 Juni 2026, Cek di Sini!
Terkini
Selasa 02-06-2026,12:00 WIB
BI Balikpapan: Tak Cukup Jualan Online, UMKM Kini Dituntut Kuasai AI
Selasa 02-06-2026,11:01 WIB
Hari Ketiga Pencarian, Tim Gabungan Perluas Penyisiran Korban Hanyut di Sungai Melenyu
Selasa 02-06-2026,10:28 WIB
Istana Bantah Prabowo Rutin ke Luar Negeri untuk Gagah-gagahan
Selasa 02-06-2026,10:00 WIB
Demi Cetak Generasi Penyangga IKN, PPU Pertahankan TPP Guru
Selasa 02-06-2026,09:30 WIB