Bankaltimtara

Truk Sampah Diawasi Secara Digital Melalui GPS Tracker, DLH Samarinda Hemat BBM 8 Persen

Truk Sampah Diawasi Secara Digital Melalui GPS Tracker, DLH Samarinda Hemat BBM 8 Persen

Proses pengangkutan sampah dari TPS oleh DLH Samarinda.-istimewa-

SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda berhasil menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) armada pengangkut sampah sekitar 8 persen sepanjang Januari hingga April 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Capaian tersebut terbilang signifikan karena terjadi saat jumlah armada yang beroperasi justru bertambah dari 61 unit menjadi 71 unit.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLH Samarinda, Muhammad Taufiq Fajar mengatakan, efisiensi penggunaan BBM itu menjadi salah satu hasil penerapan sistem pengawasan berbasis teknologi yang mulai diterapkan pada armada pengangkut sampah.

Taufiq menjelaskan, penghitungan efisiensi dilakukan berdasarkan jumlah liter BBM yang digunakan, bukan nilai pengeluaran dalam rupiah.

BACA JUGA: Truk Tua Masih Beroperasi, DLH Samarinda Kekurangan Armada Pengangkut Sampah

Menurutnya, metode tersebut dipilih karena harga bahan bakar jenis Dexlite mengalami kenaikan sehingga perbandingan berdasarkan biaya tidak dapat menggambarkan tingkat efisiensi secara objektif.

“Yang kami hitung adalah penggunaan dalam liter. Kalau dihitung dari biaya tentu hasilnya berbeda karena harga BBM mengalami perubahan,” jelasnya, Selasa, 16 Juni 2026.

Untuk mendukung pengawasan armada, DLH memanfaatkan teknologi GPS tracker yang dipasang pada kendaraan pengangkut sampah.

Perangkat tersebut memungkinkan petugas memantau pergerakan armada secara langsung dan memastikan kendaraan beroperasi sesuai jalur yang telah ditentukan.

BACA JUGA: Harga BBM Naik, Neni Ajukan Tambahan Anggaran untuk DLH Bontang

“Sekarang semua terpantau, mulai dari pergerakan kendaraan sampai pengisian BBM,” katanya.

Selain GPS tracker, DLH juga memasang sensor bahan bakar yang berfungsi mencatat konsumsi BBM pada setiap kendaraan.

Data tersebut kemudian dipadukan dengan penggunaan kartu Radio Frequency Identification (RFID) yang wajib digunakan saat pengisian bahan bakar di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Menurut Taufiq, sistem tersebut membuat seluruh aktivitas armada lebih mudah diawasi sehingga potensi pemborosan maupun penyalahgunaan penggunaan bahan bakar dapat diminimalkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: