BBM Non Subsidi Naik, Harga Bahan Pangan di PPU Potensi Merangkak
Salah satu SPBU di PPU.-Awal/Disway Kaltim-
PPU, NOMORSATUKALTIM - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dikhawatirkan berimbas pada naiknya angka inflasi di daerah.
Sebab, biaya logistik dan harga bahan pangan besar kemungkinan ikut terkerek.
Diinformasikan, harga BBM di Kalimantan Timur terbaru yakni Pertamax Rp12.600 per liter, Pertamax Turbo Rp19.850 per liter (sebelumnya Rp13.350), Dexlite kini Rp24.150 per liter (sebelumnya Rp14.500).
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Hadi Saputro, mengakui terjadinya potensi tekanan inflasi akibat penyesuaian harga tersebut.
BACA JUGA:Mobil Dinas Pemkab PPU Ketahuan 'Nongkrong' di Samarinda saat Kebijakan WFH
Menurut Hadi, kenaikan BBM secara teoritis akan mengerek biaya operasional yang kemudian dibebankan pada tarif angkutan, baik barang maupun jasa.
Meski demikian, ia menilai dampaknya terhadap angkutan umum dan logistik pangan rakyat di PPU masih relatif terkendali.
BACA JUGA:Transparansi Dipertanyakan, BGN Bungkam soal Terhentinya Program MBG di PPU
"BBM ini memengaruhi banyak hal. Kalau harga naik, cost pasti naik, dan itu biasanya dijatuhkan kepada tarif angkutan. Tapi untuk angkutan umum kita masih menggunakan Pertalite yang sampai hari ini belum naik, begitu juga angkutan pedesaan yang masih memakai Biosolar," kata Hadi, Kamis 23 April 2026.
Hadi menjelaskan, dampak kenaikan BBM non subsidi lebih terasa pada sektor industri yang berbasis distribusi skala besar, manufaktur, serta ritel modern diprediksi menjadi lini yang paling merasakan tekanan dari penyesuaian harga BBM non subsidi tersebut.
Katanya, Jika harga BBM naik, beban tersebut secara otomatis akan dialihkan ke tarif angkutan dan harga jual produk.
"Industri yang berbasis distribusi, ritel modern, dan logistik skala besar biasanya menggunakan BBM non subsidi seperti Pertamax atau Dexlite. Ini jelas akan menekan margin keuntungan mereka," sebutnya.
Ia menambahkan, jika pengusaha ritel terpaksa menaikkan harga produk guna menjaga margin, risiko terbesarnya adalah penurunan daya beli masyarakat. Dirinya menibaratkan, sebelumnya masyarakat beli 5 item, namun karena harga naik maka hanya membeli 2 item saja.
BACA JUGA:Pedagang di Depan RSUD Ratu Aji Putri Botung PPU akan Direlokasi
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
