Bankaltimtara

Harga Pangan dan BBM Dorong Inflasi Balikpapan, BI Warning Risiko Kemarau Panjang

Harga Pangan dan BBM Dorong Inflasi Balikpapan, BI Warning Risiko Kemarau Panjang

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi-Salsa/ Nomorsatukaltim-

BALIKPAPAN, NOMORSATUKALTIM - Tekanan harga di Kota Balikpapan mulai melandai pada Maret 2026. Tapi ancaman inflasi belum benar-benar pergi.

Bank Indonesia Balikpapan memberi sinyal waspada seperti musim kemarau panjang, distribusi terganggu, dan ketergantungan pasokan luar daerah bisa membuat harga pangan kembali melonjak.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan, pihaknya tengah mencermati sejumlah risiko yang berpotensi menekan stabilitas harga dalam beberapa bulan ke depan.

"Kami mencermati beberapa risiko yang akan memengaruhi tekanan inflasi di antaranya prakiraan musim kemarau panjang yang diperkirakan oleh BMKG mulai Mei 2026 berisiko menekan produksi pangan, khususnya di daerah sentra produksi," ujarnya dalam siaran pers inflasi Maret 2026.

BACA JUGA: Tekanan Inflasi Belum Usai, Cabai Masih jadi Pemicu Kenaikan Harga Bahan Pokok di Pasar

Selain ancaman kemarau, April ini juga masih dibayangi cuaca ekstrem dan gelombang laut tinggi yang bisa mengganggu distribusi bahan pokok.

Situasi itu dinilai sensitif bagi Balikpapan yang masih sangat bergantung pada suplai dari luar daerah.

Data BI mencatat inflasi Balikpapan pada Maret 2026 sebesar 0,51 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan berada di angka 2,95 persen. Angka itu masih lebih rendah dibanding inflasi gabungan 4 kota di Kalimantan Timur sebesar 3,31 persen maupun nasional 3,48 persen.

BACA JUGA: Khawatir Terjadi Inflasi, Pemkot Samarinda Gerak Cepat Bangun Ulang Pasar Segiri

Sementara Penajam Paser Utara justru mengalami tekanan harga lebih tinggi. Kabupaten itu mencatat inflasi 1,09 persen secara bulanan dan 3,02 persen secara tahunan.

Di Balikpapan, pemicu utama kenaikan harga datang dari kebutuhan sehari-hari. Lima komoditas penyumbang inflasi tertinggi yakni bensin, cabai rawit, ikan layang, bahan bakar rumah tangga, dan daging ayam ras.

Harga bensin naik setelah penyesuaian Pertamax sebesar Rp500 per liter sejak 1 Maret 2026. Cabai rawit terdorong naik akibat pasokan dari Jawa dan Sulawesi terganggu hujan tinggi.

Sedangkan harga ikan laut naik karena cuaca buruk membuat nelayan lebih sedikit melaut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait