Bankaltimtara

Dua Kali Terbakar, Batu Ampar Jadi Bukti Lemahnya Mitigasi Bencana di Kutim

Dua Kali Terbakar, Batu Ampar Jadi Bukti Lemahnya Mitigasi Bencana di Kutim

Kebakaran hebat terjadi di permukiman padat penduduk di Kecamatan Batu Ampar, Kutim. 103 rumah ludes dan 465 jiwa terdampak kejadian ini.-(Foto/ Istimewa)-

KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Peristiwa kebakaran yang kembali melanda Desa Batu Timbau, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kutai Timur, menuai sorotan tajam dari kalangan pemuda. 

Insiden yang terjadi pada Kamis, 26 Maret 2026 itu dinilai sebagai bukti lemahnya sistem mitigasi bencana di wilayah pedalaman.

Sekjen BEM KM Unmul, Muhammad Yuga, sekaligus aktivis pemuda Kutai Timur, menyampaikan kritik terhadap penanganan kebakaran yang dianggap minim persiapan. 

Ia menilai kejadian berulang tersebut menunjukkan kurangnya langkah antisipatif dari pemerintah daerah.

BACA JUGA: Kebakaran Hebat di Batu Ampar Hanguskan Puluhan Rumah, Disdamkartan Kutim Ungkap Penyebab Sementara

BACA JUGA: Usai Kebakaran Hebat di Batu Ampar, Polres Kutim Buka Layanan Kesehatan Gratis

Yuga, yang saat ini menempuh pendidikan di Samarinda, menilai kebakaran besar yang menghanguskan puluhan rumah warga tidak seharusnya terus terjadi tanpa adanya perbaikan sistem yang signifikan.

Menurutnya, peristiwa ini bukan yang pertama kali terjadi. Ia mengingatkan bahwa pada awal tahun 2025, kebakaran serupa juga melanda kawasan yang sama dan menghanguskan sekitar 100 rumah warga.

Kejadian terbaru bahkan kembali menyebabkan kerugian besar, dengan lebih dari 103 rumah dilaporkan ludes terbakar. Dengan jumlah KK yang terdampak sekitar 155, dan Jumlah Jiwa 465. 

Kondisi ini memperlihatkan bahwa persoalan mendasar dalam penanganan bencana belum terselesaikan.


Sekjen BEM KM Unmul, Muhammad Yuga.-(Ist./ Dok. Pribadi)-

BACA JUGA: Kebakaran di Pasar Segiri, 44 Bangunan jadi Arang, Pedagang Minta Percepatan Bangunan Baru

BACA JUGA: Kebakaran Kembali Melanda Permukiman Padat di Kota Balikpapan, 1 Rumah Ludes dan 2 Terdampak

“Kebakaran yang terjadi berulang kali ini mencerminkan lemahnya pengawasan serta buruknya tata kelola penanganan bencana di tingkat daerah,” ujarnya saat dihubungi, Minggu 29 Maret 2026.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: