Bankaltimtara

Pertumbuhan Ekonomi Kutim Lesu, Pengamat Ingatkan Jangan Bergantung SDA

Pertumbuhan Ekonomi Kutim Lesu, Pengamat Ingatkan Jangan Bergantung SDA

Purwadi.-istimewa-

KUTIM, NOMORSATUKALTIM – Laju pertumbuhan ekonomi Kutim yang melambat hingga 1,05 persen pada 2025 mendapat tanggapan akademisi Fekon Unmul Purwadi.

Baginya ini merupakan sinyal lemahnya fondasi ekonomi daerah yang masih bergantung pada sektor sumber daya alam (SDA), khususnya pertambangan.

Purwadi menilai struktur ekonomi Kutim saat ini belum cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.

Ketergantungan yang tinggi terhadap sektor tambang membuat daerah sangat sensitif terhadap perubahan pasar global.

BACA JUGA:Pemkab Kutim Gelar Takbir Keliling Idulfitri 1447 H, Knalpot Brong dan Petasan Dilarang

“Sekitar 60 sampai 70 persen ekonomi Kutim masih ditopang sektor pertambangan. Ini membuat daerah sangat rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dunia,” ujarnya saat di konfirmasi melalui WhatsApp, Rabu 18 Maret 2026.

Ia menjelaskan, ketika permintaan dari negara-negara besar seperti China dan India mengalami penurunan, dampaknya akan langsung dirasakan oleh daerah penghasil seperti Kutim.

Hal ini menyebabkan pertumbuhan ekonomi sulit stabil dalam jangka panjang.

“Kalau permintaan global turun, otomatis produksi ikut melambat. Dampaknya bukan hanya ke perusahaan, tapi juga ke ekonomi daerah secara keseluruhan,” jelasnya.

BACA JUGA:Kurangi Ketergantungan Tambang, DPRD Kutim Dorong Optimalisasi Pajak Daerah

Menurut Purwadi, pola seperti ini tidak hanya terjadi di Kutim.

Sejumlah daerah lain di Kalimantan Timur seperti Berau dan Bontang juga menghadapi persoalan serupa karena mengandalkan komoditas sebagai tulang punggung ekonomi.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat pertumbuhan ekonomi cenderung tidak konsisten.

Saat harga komoditas naik, pertumbuhan bisa melonjak tinggi, namun sebaliknya akan turun tajam ketika pasar melemah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait