Mobilitas Warga Tering Lama Kubar Bergantung Feri Penyeberangan, Berharap Dibangunkan Jembatan Penghubung
Kapal feri sebagai moda transportasi utama warga Tering Lama, Kutai Barat.-Eventius/Nomorsatukaltim-
KUBAR, NOMORSATUKALTIM– Warga di wilayah Tering Lama, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), hingga kini masih mengandalkan feri penyeberangan sebagai sarana utama untuk menyeberangi Sungai Mahakam menuju ibu kota kabupaten di Sendawar.
Ketiadaan jembatan penghubung membuat transportasi sungai menjadi satu-satunya akses bagi masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Setiap hari, feri penyeberangan yang beroperasi di sekitar pelabuhan Tering melayani mobilitas warga dari dan menuju wilayah seberang Sungai Mahakam.
Penyeberangan ini digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pekerja, pelajar, pedagang, hingga warga yang hendak mengurus berbagai keperluan di pusat pemerintahan Kabupaten Kutai Barat di Kecamatan Barong Tongkok.
BACA JUGA: Jalan Muara Muntai–Nayan Direkonstruksi, BBPJN Kaltim Targetkan Rampung Akhir 2026
BACA JUGA: Perbaikan Jalan Simpang Blusuh–Batas Kalteng Jadi Proyek Terbesar BBPJN di Kutai Barat
Aktivitas di pelabuhan penyeberangan biasanya mulai ramai sejak pagi hari. Kendaraan roda dua, mobil pribadi, hingga kendaraan pengangkut barang tampak antre menunggu giliran untuk naik ke atas feri.
Dalam satu kali perjalanan, feri dapat mengangkut sejumlah kendaraan sekaligus bersama para penumpangnya.
Bagi warga Tering Lama, kondisi tersebut bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun mereka telah terbiasa mengandalkan transportasi penyeberangan untuk menuju Sendawar maupun wilayah lain di Kutai Barat.
Namun demikian, sebagian masyarakat berharap suatu saat pemerintah dapat membangun jembatan penghubung agar akses transportasi menjadi lebih cepat dan efisien.
BACA JUGA: Jembatan Sungai Ponak Rusak, DPRD Kutai Barat Desak Pemda Bertindak Cepat
BACA JUGA: Jembatan Nangin di Siluq Ngurai Ambruk, Akses Warga Kampung Rikong Kutai Barat Lumpuh Total
Salah seorang warga Tering Lama, Lukas mengatakan, masyarakat di wilayah tersebut tidak memiliki alternatif jalur darat untuk menuju ibu kota kabupaten.
Karena itu, penyeberangan menggunakan feri menjadi satu-satunya pilihan yang tersedia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
