Bankaltimtara

DKP Kukar Wanti-Wanti Dampak Air Bangar di Sungai Mahakam

DKP Kukar Wanti-Wanti Dampak Air Bangar di Sungai Mahakam

Fenomena air bangar di Sungai Mahakam terjadi setelah debit air dari hulu meningkat tajam.-(Disway Kaltim/ Ari)-

KUTAI KARTANEGARA, NOMORSATUKALTIM — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengingatkan dampak fenomena air bangar yang kembali terjadi di Sungai Mahakam.

Kepala DKP Kukar, Muslik, menjelaskan air bangar merupakan fenomena alam yang kerap muncul seiring perubahan debit air dari wilayah hulu Sungai Mahakam. Peristiwa ini umumnya terjadi setelah banjir di kawasan hulu yang diikuti surutnya air rawa, sehingga membawa material alami ke alur sungai utama.

“Fenomena air bangar ini sebenarnya kejadian yang sudah biasa dan pernah terjadi berulang, bisa setahun sekali bahkan pada masa lalu sempat muncul dalam rentang beberapa tahun, umumnya setelah banjir di hulu dan air rawa kembali surut,” ujar Muslik saat dikonfirmasi, Kamis (29/1/2026).

Ia menerangkan, wilayah Mahakam Tengah yang didominasi kawasan rawa menjadi tempat akumulasi material organik, seperti gulma dan sisa tumbuhan air. Saat permukaan air menurun, material tersebut terbawa arus dan masuk ke Sungai Mahakam.

BACA JUGA: Siasat Menghadapi Bencana Ekologis Air Bangar

BACA JUGA: Bupati Kukar Serahkan Bantuan 40 Keramba Ikan di Desa Melintang

Muslik menjelaskan material organik yang membusuk dapat menyebabkan perubahan sifat air menjadi lebih asam, terutama saat cuaca panas mempercepat proses dekomposisi.

“Air yang bersifat asam ini menyebabkan perubahan kualitas air secara tiba-tiba, seperti turunnya kadar pH dan menurunnya oksigen terlarut, sehingga ikan mengalami stres, tidak nafsu makan, bahkan menunjukkan gejala mabuk,” jelasnya.

Menurutnya, hampir seluruh jenis ikan terdampak fenomena air bangar. Namun, beberapa jenis dinilai lebih rentan karena membutuhkan kadar oksigen tinggi atau memiliki kemampuan bergerak terbatas.

“Jenis ikan yang paling rentan biasanya ikan patin, udang, dan kelompok ikan putih lainnya, karena kebutuhan oksigennya tinggi dan pergerakannya tidak secepat ikan lain,” katanya.

BACA JUGA: Udang Windu Sumbang Rp164,4 Miliar, Perikanan Kaltim Catat Ekspor Rp256 Miliar

BACA JUGA: Di Kelurahan Sukarame, Koperasi Merah Putih Dibentuk untuk Dukung Budidaya Ikan Keramba

Ia menambahkan, secara naluriah ikan mampu mendeteksi perubahan lingkungan. Namun, pada kondisi air bangar yang terjadi secara cepat dan dalam volume besar, ikan tidak memiliki cukup waktu untuk menghindar.

“Sebetulnya ikan bisa membaca perubahan lingkungan, tetapi karena perubahan ini terjadi sangat cepat dan massal, ikan tidak sempat berpindah ke lokasi yang lebih aman,” ungkap Muslik.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait