Pajak Parkir Mi Gacoan Samarinda Mandek Sejak 2024, Dewan Ancam Penutupan
Mie Gacoan yang berada di Jalan Wahid Hasyim, Sempaja, Samarinda tengah disorot pengelolaan parkirnya.-(Disway Kaltim/ Rahmat)-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM — Komisi II DPRD Samarinda mengungkap mandeknya pembayaran pajak parkir gerai Mi Gacoan di Jalan Wahid Hasyim, Kelurahan Sempaja.
Kondisi ini disebut berlangsung sejak restoran tersebut beroperasi pada 2024.
DPRD menilai persoalan ini berpotensi merugikan pendapatan daerah dan memicu masalah sosial jika tidak segera diselesaikan.
Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan persoalan pengelolaan parkir tersebut memang terlihat sederhana, namun dampaknya bisa meluas apabila dibiarkan berlarut-larut.
BACA JUGA: Permintaan Mie Gacoan Beroperasi 24 Jam di Berau Ditolak, Pemerintah Pertimbangkan Dampak Sosial
BACA JUGA: Dishub Samarinda Tegaskan Parkir Progresif di Pasar Pagi untuk Atasi Keterbatasan Lahan
“Sebenarnya ini masalah sepele, tapi kalau didiamkan akan menjadi masalah sosial, terutama terkait parkir Mi Gacoan itu,” ujar Iswandi usai rapat pembahasan retribusi parkir, pada Kamis, 15 Januari 2026.
Iswandi menjelaskan, dari sisi legalitas, Mi Gacoan berada di bawah naungan PT Pesta Pora Indonesia yang berkedudukan di Malang.
Perusahaan tersebut kemudian menunjuk PT Bahana Security System yang beralamat di Makassar untuk mengelola parkir.
Namun, di sisi lain, terdapat warga lokal yang ingin dilibatkan dalam pengelolaan parkir agar tidak berkembang praktik parkir liar maupun premanisme.
BACA JUGA: Pemkot Samarinda Hitung Potensi Parkir Pasar Pagi, Kerja Sama Pihak Ketiga Ditargetkan Dimulai Maret
BACA JUGA: Dishub Samarinda Kembali Tertibkan Parkir Kontainer Liar, Kali Ini di Palaran
Persoalan muncul karena sejak Mi Gacoan beroperasi pada 2024 hingga saat ini, belum ada kontribusi optimal dari sektor parkir akibat polemik internal tersebut.
“Tinggal duduk bersama saja, atur baik-baiknya bagaimana. Libatkan orang lokal, bagi hasil yang jelas supaya semua tersenyum. Kalau tidak, sama saja kita terjajah lagi. Uang diambil di sini, tapi berputarnya di Malang dan Makassar, sementara multiplier effect-nya tidak ada,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

