Bankaltimtara

BMKG Nilai Alat Observasi Laut di Berau Mendesak untuk Keselamatan Pesisir

BMKG Nilai Alat Observasi Laut di Berau Mendesak untuk Keselamatan Pesisir

Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi.-(Disway Kaltim/ Azwini)-

BERAU, NOMORSATUKALTIM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menilai keberadaan alat observasi laut di wilayah pesisir Kabupaten Berau semakin mendesak. 

Alat tersebut diperlukan untuk memperkuat pemantauan kondisi perairan sekaligus meningkatkan keselamatan aktivitas masyarakat pesisir dan jalur penyeberangan laut.

Kepala BMKG Berau, Ade Heryadi, mengatakan saat ini BMKG hanya mampu memberikan prakiraan tinggi gelombang laut maksimal hingga 7 hari ke depan. 

“Untuk tinggi gelombang, informasi yang bisa kami berikan itu maksimal tujuh hari kedepan. Kalau lebih dari itu, kami baru bisa menyampaikan gambaran klimatologisnya saja, berupa data rata-rata tinggi gelombang dan kecepatan angin,” ujar Ade, Senin 5 Januari 2026.

BACA JUGA: Iklim 2026 Diprediksi Stabil, BMKG Tetap Ingatkan Risiko Banjir, Karhutla dan DBD

BACA JUGA: Kata BMKG Soal Efek La Nina Lemah: Kaltim Musim Hujan Panjang, Samarinda Rawan Banjir

Menurut Ade, keterbatasan prakiraan tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya keberadaan alat observasi laut yang dapat memantau kondisi perairan secara real time. 

Alat tersebut tidak hanya mendukung penyusunan prakiraan cuaca, tetapi juga berfungsi mendeteksi perubahan dan keanehan kondisi air laut.

“Alat ukur untuk observasi air laut memang diperlukan. Mudah-mudahan ke depan bisa ada sinergi antara BMKG dan pemerintah daerah untuk menyediakan alat pengamatan cuaca dan kondisi real di perairan Berau,” kata Ade.

Saat ini, alat pengukur level air laut atau tide gauge milik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah terpasang di Pelabuhan Tanjung Batu. 

BACA JUGA: Kunjungan Wisatawan ke Destinasi Pesisir di Berau Terus Menunjukkan Tren Positif

BACA JUGA: Penumpang Nataru 2026 di Bandara Kalimarau Tembus 30.168 Orang, Naik 32 Persen

Namun, Ade menilai jumlah tersebut masih belum ideal untuk kebutuhan pemantauan perairan Berau yang cukup luas.

“Kalau semakin rapat tentu akan semakin bagus. Selain di Tanjung Batu, wilayah seperti Maratua juga perlu dipasang alat pengukur level air laut, termasuk untuk mengukur arus dan parameter kelautan lainnya,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: