Kritik Rocky Gerung di 100 Hari Kepemimpinan Prabowo: "Ngapain Kampus Nambang Batu Bara"
Rocky Gerung saat diwawancarai langsung usai seminar publik di UMKT Samarinda-Salsabila/disway-
SAMARINDA, NOMORSATUKALTIM - Rektor Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT), Muhammad Musiyam menyebut, kehadiran Rocky Gerung di kampus Muhammadiyah sebagai wujud intelektualitas.
“Kami bersyukur dapat menghadirkan Rocky Gerung, karena tidak mudah mengundang Roky Gerung mungkin jadwalnya padat sekali. Terimakasih mahasiswa Himpunan Mahasiswa Hukum (Himakum) yang sudah menghadirkan narasumber nasional,” katanya dalam seminar bertema "Titik Awal Perubahan 100 Hari Kepemimpinan Prabowo dan Gibran Menuju Indonesia Emas", pada Senin (17/2/2025).
Bagi Muhammad Musiyam, Rocky Gerung merupakan simbol perdebatan atau perdiskusian untuk kemajuan negara.
"Negara ini didirikan atas fase ide besar. Jadi menurut saya, diskusi seperti ini harus terus digalakan,” ucap Musiyam.
BACA JUGA:BPKP Kaltim Kawal Keberlanjutan Program MBG, Soroti 3 Potensi Risiko
Pria yang akrab disapa Musiyam itu menyebut, sosok Rocky Gerung harus terus dihidupkan karena nalar kritisnya dan perdebatan dalam setiap ruang diskusi.
"Ini bagus untuk mahasiswa. Rocky Gerung menjadi bentuk pembaharuan pikiran, serta kemajuan dalam bernalar kritis," ungkapnya dihadapan mahasiswa UMKT.
Rocky Gerung pun menyampaikan pendapatnya terkait izin pertambangan yang akan diberikan terhadap perguruan tinggi. Menurut Roger (singkatan dari namanya), kampus seharusnya menambang ilmu bukan batu bara.
BACA JUGA:Ratusan Mahasiswa Gelar Aksi di Kantor DPRD Kaltim, Menuntut Pencabutan Inpres Nomor 1 Tahun 2025
"Ya ngapain, kampus disuruh menambang batu bara. Harusnya yang perlu ditambang itu fikiran tuh," tekannya.
Rocky Gerung bilang, pemerintah tidak suka apabila ada diskusi-diskusi publik yang digelar oleh mahasiswa.
"Mereka merasa terserang kan, pemerintah kaya suka memperbodoh masyarakat. Muhammadiyah dan ormas lain itu bisa membantu pendidikan yang ada di Indonesia, jadi tidak semakin parah," jelas akademisi dan pengamat politik itu.
BACA JUGA:Seniman Lokal Samarinda “Bersuara” di Pameran Bertajuk “What’s Left in The City”
Ia membeberkan, bahwasanya Kyai Haji Ahmad Dahlan dahulu membentuk Muhammadiyah bukan untuk kepentingan politik melainkan demi kemajuan umat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

