Analisis IHSG Pekan Ini, Berpeluang Konsolidasi Menguat

Analisis IHSG Pekan Ini, Berpeluang Konsolidasi Menguat

Balikpapan, nomorsatukaltim.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah pada sesi terakhir perdagangan, Jumat (21/5/2021) lalu. IHSG ditutup turun 24,47 poin atau 0,42 persen ke 5.773.

Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee memerkirakan pekan ini, IHSG berpeluang konsolidasi menguat. Yakni dengan support di level 5,742 sampai 5,623. Dan resistance di level 5,855 sampai 6,005. “Sentimen global masih akan memengaruhi pergerakan IHSG pada pekan ke-4 Mei 2021. Khususnya dari Amerika Serikat (AS) dan Eropa,” jelas Hans Kwee dalam keterangan resminya yang diterima Disway Kaltim. Misalnya, data menunjukkan aktivitas pabrik di AS naik dengan cepat di periode awal Mei, di tengah permintaan domestik yang kuat. Aktivitas manufaktur di AS menuju level rekor kenaikan bulanan. IHSG Market Flash US Manufacturing Purchasing Managers' Indeks naik ke level 61,5 di periode Mei. Merupakan angka tertinggi sepanjang masa. Angka itu jauh lebih baik dari perkiraan para analis yang memproyeksikan stagnan. Data ekonomi yang kuat seperti PMI berpotensi menjadi risiko jangka pendek bagi pasar keuangan. Karena berpotensi mendorong The Fed mengurangi pembelian obligasi lebih cepat dari yang diperkirakan. Selanjutnya, pengumuman data klaim pengangguran pertama pekan lalu yang mencapai 444.000 orang. Angka ini merupakan level terendah sejak era pandemi COVID-19. Dan lebih rendah dari ekspektasi 452 ribu orang. Tetapi, rilis data menunjukkan pertumbuhan pekerjaan menurun pada April 2021. Di mana tercatat penambahan lapangan kerja hanya 266 ribu pada bulan lalu. Hal ini menyebabkan angka pengangguran masih tetap tinggi. Di sisi lain, aktivitas bisnis di AS lebih rendah dari perkiraan. The Fed Philadelphia mengatakan, indeks aktivitas bisnis turun menjadi 31,5 di periode April, dari sebelumnya 50,2 pada Maret. Angka ini juga di bawah ekspektasi sebesar 43,0. Sehingga menimbulkan keraguan seberapa cepat ekonomi dapat pulih dan mulai memanas. “Nampaknya data ekonomi USA masih tidak stabil dan solid,” sebut Hans. Sentimen ketiga, yield obligasi AS tenor 10 tahun menguat kekisaran 1,69% setelah notulen FOMC The Fed dirilis. Padahal sebelumnya, yield berada di kisaran 1,63%. Tekanan dari yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terlihat di jangka pendek dan mulai turun. Yield mulai bergerak turun ke kisaran 1,63%. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan inflasi di AS mulai mereda karena data ekonomi AS tidak terlalu solid. Data indeks aktivitas bisnis manufaktur di Philadelphia AS untuk Mei, dirilis di bawah data April; 31,5 vs 50,2. Indeks dolar AS juga terlihat melemah. Bergerak di dekat kisaran terendah dalam 2 bulan terakhir di level 89,75. “Kekhawatiran pelaku pasar tentang perubahan kebijakan The Fed akibat kenaikan inflasi mulai mereda seiring data ekonomi AS yang tidak terlalu solid,” sebutnya lagi. Hans mengatakan, sentimen yang juga akan memengaruhi IHSG adalah pasar keuangan yang sempat tertekan karena risalah pertemuan The Fed 27-28 April. Komite Kebijakan Pasar Terbuka (FOMC) mengungkapkan ada lebih banyak pembicaraan tentang pengurangan pembelian obligasi. Dalam risalah The Fed, beberapa pembuat kebijakan di bank sentral mengatakan bahwa diskusi tentang pengurangan laju pembelian aset jika pemulihan ekonomi AS terus membaik. Hal itu mengejutkan pelaku pasar. Mengingat Gubernur The Fed Jerome Powell bulan lalu mengatakan, bahwa belum waktunya untuk mulai membahas perubahan kebijakan apapun. Risalah tersebut berisi kata-kata yang tampaknya berusaha untuk memulai diskusi tentang pengurangan pembelian obligasi pada waktu yang lebih awal dari perkiraan. Yang perlu diketahui risalah tersebut berasal dari rapat yang terjadi sebelum rilis data ekonomi. Yang menunjukkan pelemahan lebih lanjut di pasar tenaga kerja dan kenaikan inflasi akibat kenaikan harga karena terjadi ketidakseimbangan penawaran/permintaan. Kemudian, pejabat The Fed kembali menegaskan bahwa masih terlalu dini untuk menarik pelonggaran kebijakan moneter. Perkembangan tingkat pengangguran di AS masih belum menggembirakan. Sikap terbaru The Fed ini melegakan pelaku pasar. Dengan pasar kerja yang masih jauh dari target The Fed dan virus COVID-19 masih menewaskan ratusan orang setiap hari di AS. Presiden The Fed St Louis James Bullard berpendapat terlalu dini untuk membuka diskusi kebijakan tapering off (untuk mengurangi pembelian obligasi). Biarpun inflasi naik lebih tinggi, namun rilis data justru menunjukkan pertumbuhan pekerjaan menurun pada April 2021. Ini memberikan dorongan bagi The Fed untuk tetap mempertahankan kebijakan dovish untuk saat ini. Pasar menanti data pekerjaan berikutnya yang akan dirilis pada 3 Juni. Bila data tersebut kuat, pelaku pasar akan mulai bersiap dengan kemungkinan The Fed melakukan tapering off pada pertemuan berikutnya. Sentimen berikutnya dari Eropa. Di mana pertumbuhan bisnis Uni Eropa menunjukkan kecepatan tersignifikan dalam 3 tahun terakhir akibat keberhasilan vaksinasi virus COVID-19 dan lebih banyak bisnis di sektor jasa yang dominan. Data awal Indeks PMI Uni Eropa di level 56,9 dibanding periode April sebesar 53,8. Penjualan ritel di Inggris juga naik ke level 9,2 persen di periode April. Naik 2 kali lipat dari estimasi para analis yang disurvei Reuters. Data resmi yang dirilis juga memperlihatkan permintaan konsumen yang mulai menggeliat. Aktivitas bisnis yang menguat di Eropa membuat investor tetap optimistis dalam menghadapi kekhawatiran overheat perekonomian. Aset berisiko terlihat jauh lebih positif dengan rangkaian data ekonomi yang lebih kuat. Sehingga memberikan argumen untuk tetap berada di pasar ekuitas. “Presiden European Central Bank (ECB/bank sentral Eropa) Christian Lagarde juga menambah sentimen positif pasar ekuitas dengan mengatakan masih terlalu dini bagi ECB untuk membahas penyelesaian skema pembelian obligasi darurat 1,85 triliun euro atau setara USD 2,25 triliun.” Selanjutnya, dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan RI pada April yang lebih besar dari bulan sebelumnya. Neraca perdagangan Indonesia surplus USD 2,19 miliar pada April 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, Indonesia masih melanjutkan tren surplus neraca perdagangan pada April 2021. Angka tersebut lebih tinggi dari surplus neraca perdagangan per Maret 2021 yang sebesar USD 1,57 miliar. Surplus neraca perdagangan April 2021 bukan menipis, tapi lebih kuat dari bulan lalu. Surplus neraca perdagangan April 2021 merupakan yang tertinggi sejak Januari 2021, bahkan dalam kurun waktu 1 tahun terakhir. “Ini menjadi sentimen penguat bagi kurs rupiah dan pasar Ekuitas di dalam negeri,” kata Hans. Sentimen terakhir yang akan memengaruhi pergerakan pasar saham adalah rotasi sektoral diperkirakan masih akan terus berlanjut seiring peluncuran gerakan vaksinasi COVID-19 diberbagai negara dan pembukaan kembali perekonomian seiring turunnya kasus COVID-19. Hans menambahkan, program vaksin yang cukup sukses di AS dan zona Eropa, serta pembukaan ekonomi telah mendorong pelaku pasar lebih optimis dan membeli aset berisiko. Rotasi terjadi dari emiten teknologi dan defensif ke saham siklikal yang lebih di untungkan karena pemulihan ekonomi. “Pasar keuangan terlihat masih akan sangat fluktuasi akibat kebangkitan pandemi COVID-19 di beberapa negara, program vaksinasi yang tidak merata dan pemulihan ekonomi yang berbeda,” tutup Hans Kwee. (fey/eny)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: