Generasi Scroll dan Krisis Membaca
Silvi Aris Arlinda, S.I.Kom., M.I.Kom.-dok.pribadi-
Membaca buku sesungguhnya melatih manusia untuk memahami konteks, melihat persoalan secara lebih utuh, serta membangun kedalaman berpikir.
Berbeda dengan budaya scrolling yang serba cepat, membaca membutuhkan kesabaran, fokus, dan kemampuan merenung. Karena itu, menurunnya budaya membaca bukan hanya persoalan pendidikan, tetapi juga persoalan kualitas masyarakat di era digital.
Meski demikian, perkembangan teknologi tidak sepenuhnya harus dipandang sebagai ancaman bagi literasi. Media digital juga dapat dimanfaatkan untuk membangun budaya membaca dengan pendekatan yang lebih relevan bagi generasi muda. Konten edukatif, komunitas literasi digital, diskusi buku di media sosial, hingga platform membaca digital dapat menjadi ruang baru untuk menumbuhkan minat baca masyarakat.
Namun yang paling penting adalah membangun kesadaran bahwa membaca bukan aktivitas yang kuno atau membosankan. Membaca justru menjadi kebutuhan penting agar masyarakat tidak terjebak dalam arus informasi dangkal yang terus bergerak cepat. Di tengah dominasi layar dan budaya instan, membaca menjadi ruang refleksi yang membantu manusia tetap berpikir jernih dan kritis.
Pada akhirnya, tantangan terbesar generasi digital saat ini bukan lagi kurangnya akses informasi, melainkan bagaimana menjaga kualitas pemahaman di tengah arus informasi yang begitu cepat.
Sebab di era ketika semua orang dapat memperoleh informasi dengan mudah, kemampuan membaca secara mendalam justru menjadi keterampilan yang semakin berharga.
*Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

