Perang Pakistan-Afghanistan Pecah, WNI Diminta Batasi Perjalanan
Seorang pria membaca koran dengan halaman depan yang menampilkan berita tentang bentrokan lintas perbatasan antara Pakistan dan Afghanistan di sebuah kios pinggir jalan, di Karachi, Pakistan.-(Ist./ EPA)-
JAKARTA, NOMORSATUKALTIM - Konflik bersenjata antara Pakistan dan Afghanistan pecah setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer di wilayah perbatasan.
Pemerintah Indonesia meminta warga negara Indonesia (WNI) yang berada di negara tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah eskalasi ketegangan antara 2 negara bertetangga tersebut.
Media Afghanistan melaporkan, Pakistan menyerang sejumlah wilayah di Provinsi Khost dan Nangarhar pada Jumat (27/2/2026), yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Sehari sebelumnya, Kamis (28/2/2026), Afghanistan melancarkan operasi militer terhadap pasukan Pakistan di sepanjang Garis Durand, perbatasan kedua negara yang tidak diakui Afghanistan. Operasi itu disebut sebagai balasan atas pengeboman oleh angkatan udara Pakistan.
BACA JUGA: Menlu Arab Saudi: Gencatan Senjata di Jalur Gaza Harus Menuju Negara Palestina
BACA JUGA: Jika Dialog Gagal, Trump: Itu akan Menjadi Hari yang Buruk bagi Iran
Pakistan kemudian merespons dengan tembakan balasan sebelum menyatakan status perang terbuka terhadap Afghanistan.
Menurut laporan TOLOnews Plus, otoritas Nangarhar menyebut Pakistan meluncurkan serangan roket ke berbagai wilayah provinsi tersebut. Sebuah kamp tenda dilaporkan terkena serangan, namun tidak ada korban jiwa.
Sementara kantor berita pemerintah Afghanistan, Bakhtar, melaporkan militer Pakistan menyerang sejumlah distrik di Provinsi Khost yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Tiga orang dilaporkan tewas dan mengalami luka akibat serangan tersebut.
Merespons eskalasi konflik Pakistan-Afghanistan, Indonesia mendorong kedua pihak menempuh jalur damai.
BACA JUGA: Baru Saja Sepakat Gencatan Senjata, Perang India dan Pakistan Kembali Pecah
BACA JUGA: Pakistan Balas Serangan India, Hancurkan Gudang Rudal BrahMos di Punjab
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia, Vahd Nabyl A Mulachela, mengatakan Indonesia terus menyerukan langkah deeskalasi yang harus segera diikuti dialog.
“Indonesia berharap kedua negara bisa menyelesaikan permasalahan secara damai, mengedepankan dialog, dan melakukan deeskalasi,” kata Nabyl di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (27/2/2026).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
