Menu MBG SPPG Bontang Selatan 3 Terbukti Mengandung Bakteri E Coli
Menu MBG dari SPPG Bontang Utara batal didistribusikan karena gagal lolos uji organoleptik.-(Ilustrasi/ Istimewa)-
“Kontaminasi bisa berasal dari tangan penjamah makanan yang kurang bersih, air yang tercemar, peralatan masak yang tidak higienis, atau pencampuran antara bahan mentah dengan makanan yang sudah matang,” jelasnya.
Ia menyebut gejala yang umum muncul akibat infeksi bakteri tersebut antara lain mual, muntah, nyeri atau kram perut, diare, demam ringan pada sebagian kasus, serta lemas hingga dehidrasi.
Bakteri E. coli secara umum ditemukan pada kotoran manusia dan hewan.
Selain itu, air yang tercemar limbah, daging yang tidak dimasak sempurna, sayuran atau buah yang terkontaminasi, makanan matang yang mengalami kontaminasi ulang, hingga peralatan masak atau tangan penjamah makanan yang tidak higienis.
“Seluruh orang berpotensi terinfeksi. Tapi yang paling rentan, anak-anak, lanjut usia, orang dengan daya tahan tubuh rendah, serta penderita penyakit kronis,” bebernya.
Sempat beredar pertanyaan, kenapa tidak semua murid mengalami kondisi yang sama.
BACA JUGA:Tarif Parkir Progresif Mulai Diterapkan di BCM, Makin Lama Masuk Makin Naik Angkanya
Toetoek menjelaskan, hal tersebut merupakan hal yang lazim dalam kasus dugaan keracunan makanan.
Karena, ada sejumlah faktor yang memengaruhi munculnya gejala pada setiap individu.
Di antaranya jumlah bakteri yang tertelan tidak sama pada setiap porsi makanan, perbedaan daya tahan tubuh, banyaknya makanan yang dikonsumsi, tingkat kepekaan saluran pencernaan, serta kondisi lambung saat makan.
“Dalam satu kejadian keracunan makanan sangat mungkin 100 orang mengonsumsi makanan yang sama, tetapi hanya sebagian yang mengalami mual, muntah, atau diare, sementara yang lain tetap sehat."
"Hal itu tidak meniadakan kemungkinan bahwa makanan tersebut menjadi sumber kejadian,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
