“Pembangunan di lingkungan RT tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Warga perlu terlibat sejak menentukan kebutuhan, mengawasi pekerjaan, sampai menjaga hasilnya. Unsur lain juga dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing,” tuturnya.
Selain aspek administrasi, keberlanjutan manfaat juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan Pro Bebaya. Kegiatan pemberdayaan diharapkan tidak berhenti setelah pelatihan selesai, melainkan dapat diterapkan warga untuk meningkatkan kemampuan dan membuka peluang penghasilan. Sementara itu, hasil pembangunan fisik perlu dirawat agar tetap dapat digunakan masyarakat.
Melalui penilaian Pro Bebaya Award 2026, Pemkot Samarinda mendorong setiap lingkungan RT memperhatikan kesesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, hasil kegiatan, dan laporan pertanggungjawaban. Dengan pengelolaan yang tertib, manfaat program dapat dirasakan masyarakat sekaligus memiliki dasar administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Harapan kami, kegiatan yang sudah dijalankan tidak berhenti ketika penilaian selesai. Warga bisa terus mengembangkan hasil pemberdayaan, menjaga fasilitas yang dibangun, dan memastikan manfaat program tetap dirasakan dalam jangka panjang,” tutup Neneng.
Sebagai informasi, Pro Bebaya Award 2026 diikuti 30 perwakilan RT dari 10 kecamatan di Samarinda. Peserta tersebut dinilai dalam tiga kategori, yakni infrastruktur; ekonomi dan sosial budaya; serta kesehatan, pendidikan, dan kepemudaan.
BACA JUGA: Pemkot Samarinda Inisiasi Sertifikasi Terowongan, Jadi Percontohan Tipe Sejenis di Indonesia
Rangkaian penilaian berlangsung bertahap. Agenda penilaian di tingkat wilayah telah tercatat sejak akhir September, dilanjutkan presentasi peserta kepada tim juri tingkat kota pada 15 Oktober dan peninjauan lapangan pada akhir Oktober.
Pemkot Samarinda sebelumnya menjadwalkan pengumuman pemenang sekaligus penyerahan penghargaan pada November 2026.