2026, Desa Sungai Bawang Kukar Kejar Target Zero Kasus Stunting

Minggu 25-10-2026,11:03 WIB
Reporter : Rahmat Pratama
Editor : Sammy Laurens

KUKAR, NOMORSATUKALTIM – Pemerintah Desa Sungai Bawang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menargetkan nol kasus atau zero stunting pada akhir 2026. 

Kepala Desa Sungai Bawang, Martinus, mengatakan pemerintahannya terus melakukan penguatan pemantauan pertumbuhan balita, peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Posyandu, serta pemberian makanan tambahan (PMT) bergizi.

Menurut Martinus, saat ini terdapat empat anak yang mengalami kondisi berat badan tidak naik berdasarkan pemeriksaan terakhir. 

Namun, pihaknya belum dapat memastikan apakah anak-anak tersebut mengalami stunting karena masih menunggu pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga kesehatan.

Baca Juga: Bimtek Diskes, DPMD Kukar Sampaikan Implementasi Posyandu Transformasi 6 SPM

“Secara fisik, anak-anak tersebut terlihat sehat, kuat, dan aktif. Hanya saja, berat badannya tidak mengalami kenaikan pada pemeriksaan terakhir. Karena itu, kami belum bisa memastikan status mereka sebagai anak stunting sebelum mendapatkan hasil pemeriksaan lebih lanjut dari tenaga kesehatan yang berwenang,” katanya, Sabtu 24 Oktober 2026.

Untuk mencapai target zero kasus stunting, pemerintah desa bersama ibu-ibu Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) mendorong orang tua agar lebih rutin membawa balita ke Posyandu.

Melalui pemeriksaan berkala, pertumbuhan anak dapat dipantau sehingga masalah yang membutuhkan penanganan bisa diketahui lebih awal. 



Pemerintah desa juga melakukan upaya pencegahan melalui pemberian PMT bergizi guna mendukung kebutuhan pertumbuhan balita.

Baca Juga: Desa Sungai Bawang Sudah Terang, Martinus: Penerangan Jangkau 5 RT

“Target kami adalah nol kasus stunting. Untuk mencapai target tersebut, ibu-ibu PKK dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) mendorong keluarga yang memiliki balita agar lebih aktif membawa anaknya ke Posyandu,” jelas Martinus.

Di tahun sebelumnya, Martinus menyebut terdapat dua anak yang masuk dalam pendataan terkait stunting. 

Salah satunya anak yang memiliki kondisi Down syndrome, sedangkan anak lainnya memiliki faktor pertumbuhan berkaitan dengan kondisi keturunan tidak tinggi.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa klasifikasi kondisi masing-masing anak tetap harus mengacu pada pemeriksaan dan data tenaga kesehatan. 

Kondisi tersebut tidak dapat dijadikan dasar tunggal untuk menetapkan status stunting.

"Harapannya kerja sama antara keluarga, kader, dan tenaga kesehatan dapat terus diperkuat agar pertumbuhan anak terpantau dengan baik dan risiko stunting dapat dicegah," pungkasnya. (adv)

Kategori :