Kiat-Kiat Pembangkangan: Melihat Kembali dari Pikiran Paulo Freire sampai Ki Hadjar Dewantara
Penulis menyebutnya sang mahaguru pembebas para kaum tertindas, siapa lagi kalau bukan Paulo Freire. Ia memiliki pandangan bahwa pendidikan sejati merupakan proses humanisasi, yakni proses untuk memanusiakan manusia.
Upaya humanisasi harus diaktualisasikan dengan tujuan melawan proses dehumanisasi.
Dalam Pedagogy of the Oppressed, ia menolak pendidikan lama yang disebut “gaya bank”: guru menabung ilmu di peserta didik yang dianggap kosong. Dalam proses belajar itu, peserta didik semata-mata merupakan objek.
Praktik pendidikan semacam itu mencerminkan penindasan yang terjadi di masyarakat sekaligus memperkuat struktur-struktur yang menindas. Pendidikan menjadi alat dominasi yang dimanfaatkan untuk menindas.
Bagi Freire, peserta didik bukan celengan, melainkan manusia yang punya pikiran, pengalaman, dan kemampuan berpikir tentang realitasnya (Freire, 1985).
Paulo Freire berupaya menggugat dan meruntuhkan sistem pendidikan “gaya bank” yang selama ini menempatkan peserta didik sebagai penerima pasif pengetahuan.
Sebagai gantinya, ia memperkenalkan pendekatan baru yang disebut problem-posing education atau “pendidikan hadap masalah,” yang mendorong munculnya kesadaran kritis (konsientisasi). Dalam proses ini, guru dan peserta didik sama-sama berperan sebagai subjek pembelajar yang terikat oleh objek pembelajaran yang sama.
Tidak ada lagi dominasi antara yang “mengajar” dan yang “diajari,” melainkan keduanya terlibat dalam proses berpikir dan mencari makna bersama.
Menurut Freire, pengetahuan sejati hanya dapat diperoleh melalui proses penemuan dan penemuan kembali yang terus-menerus melalui interaksi reflektif dengan dunia dan sesama manusia.
Karena itu, guru dan peserta didik harus saling belajar dan mengajar secara bersamaan. Dialog menjadi unsur utama dalam proses pendidikan semacam ini.
Masih dapat diperdebatkan, pendidikan yang ideal adalah pendidikan dialogis yakni komunikasi aktif antara pendidik dan peserta didik untuk menumbuhkan kesadaran kritis dan mendorong perubahan sosial.
Hakikat dari dialog terletak pada kata, yang memiliki dua sisi penting: refleksi dan aksi. Kedua unsur ini harus berjalan beriringan; tanpa refleksi, tindakan menjadi sekadar aktivisme, sedangkan tanpa tindakan, refleksi hanya menjadi wacana kosong.
Hanya melalui praksis perpaduan antara aksi dan refleksi kata memperoleh makna sejatinya, yakni menjadi sarana bagi manusia untuk mengubah dunia.