BONTANG, NOMORSATUKALTIM - Pemadaman listrik secara bergilir terus terjadi di Kota Bontang. Pemadaman bergilir ini pun terjadi di saat jam-jam bekerja, di kisaran pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita.
Alhasil, situasi ini menarik perhatian Wakil Wali Kota Bontang, Agus Haris. Politisi Partai Gerindra ini meminta agar PLN segera mencari solusi terkait permasalahan tersebut agar pemadaman bergilir ini tidak terus terjadi.
Menurutnya, pemadaman listrik seharusnya tidak terus-terusan terjadi karena di Kota Taman memiliki pembangkit listrik sendiri, yakni di kawasan Bontang Lestari.
"Kalau mau jujur, di Bontang Lestari itu sudah ada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Graha Power Kaltim (GPK). Harusnya kita sudah surplus listrik. Mestinya nggak mati lampu lagi, kan?," kata Agus Haris, Selasa, 15 September 2026.
BACA JUGA: Listrik Kaltim Padam Bergilir, PLN Ungkap Empat Pembangkit Bermasalah
Dia mengatakan, pemadaman listrik bukan sekadar persoalan teknis. Dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Anak-anak yang membutuhkan listrik untuk belajar, termasuk pelaku usaha yang aktivitasnya bergantung pada pasokan listrik.
“Dampaknya ke banyak hal. Tidak hanya satu. Memang, selain makanan dan air, listrik ini termasuk kebutuhan pokok masyarakat juga," katanya.
Karena itu, Agus Haris meminta PLN melakukan pengaturan kelistrikan dengan lebih baik agar pemadaman bergilir tidak lagi menjadi kondisi yang harus diterima masyarakat. “Pada PLN, saya minta jangan lagi ada pemadaman lah,” tegasnya.
BACA JUGA: Hampir 2 Pekan di Samarinda Pemadaman Listrik Bergilir, PLN Disebut Tak Becus
Agus Haris juga mempertanyakan jika keterbatasan pembelian energi menjadi salah satu alasan terjadinya pemadaman. Menurutnya, masyarakat sebagai pelanggan tetap membayar penggunaan listrik.
"Kalau alasannya, kami nggak mampu membeli energi. Dari mana alasannya nggak mampu? Orang semua bayar. Tidak dibayar langsung denda. Bahkan dilakukan pemutusan listrik jika ada yang tidak bayar,” terangnya.
Ia bahkan menyinggung sistem listrik prabayar yang kini banyak digunakan masyarakat. Dalam sistem tersebut, pelanggan membeli token terlebih dahulu untuk mendapatkan pasokan listrik.
“Kalau token habis, listrik mati. Bayar dulu baru bisa nyala. Jadi, di mana letak kerugiannya?,” tanyanya.
BACA JUGA: Bakar Sampah Sembarangan di Kota Bontang Bisa Dipenjara 6 Bulan dan Denda Rp50 Juta