Persoalan pemasaran juga menjadi bagian yang tengah dibenahi.
Hasil tangkapan yang banyak belum otomatis meningkatkan penghasilan apabila distribusinya melewati terlalu banyak mata rantai.
BACA JUGA:Penghuni Kos di Kutim Gantung Diri di Kamarnya, Bercak Darah Keluar dari Bawah Pintu
Kondisi tersebut dapat membuat harga yang diterima nelayan berbeda cukup jauh dengan harga di tingkat konsumen.
“Kami juga akan berupaya memangkas jalur distribusi ikan. Harapannya, selisih harga yang diterima nelayan dengan harga di pasar tidak terlalu besar."
"Nelayan mendapatkan harga yang lebih baik, sementara masyarakat juga bisa memperoleh ikan dengan harga yang terjangkau,” kata Yuliansyah.
Penguatan kelompok nelayan menjadi salah satu langkah untuk mendukung upaya tersebut.
Melalui kelompok, koordinasi, akses bantuan, pengembangan usaha, serta peluang pemasaran dapat dilakukan secara lebih terorganisasi.
Sementara pada subsektor budi daya, Diskan Kutim memberikan perhatian terhadap ketersediaan input produksi.
BACA JUGA:Kadar Garam Sungai di Sangatta Capai 315,6 Ppm, Perumdam Pastikan Intake IPA Kabo Belum Terdampak
Benih berkualitas, pakan, mesin pakan dan teknologi budi daya menjadi sejumlah kebutuhan yang didorong untuk membantu pembudidaya meningkatkan hasil sekaligus mengendalikan pengeluaran.
Dukungan lainnya diberikan dalam bentuk kolam, tambak, keramba jaring apung, pompa serta berbagai peralatan penunjang.
Bantuan tersebut disertai pembekalan mengenai teknik budi daya dan penerapan metode yang tetap memperhatikan kondisi lingkungan.
Salah satu program yang dijalankan adalah revitalisasi tambak masyarakat.
Pada 2025, Diskan Kutim melakukan revitalisasi seluas 115,9 hektare di Kecamatan Muara Bengalon. Program tersebut kembali dilanjutkan pada 2026 dengan luasan sekitar 20 hektare.
“Kami ingin tambak-tambak yang selama ini belum optimal bisa kembali produktif dan memberikan hasil yang lebih baik bagi masyarakat,” jelas Yuliansyah.