"Kalau yang dekat Mahakam masih bisa menyedot air menggunakan alkon saat air pasang. Kami di sini tidak bisa karena terlalu jauh. Jadi hanya mengandalkan hujan," ujarnya.
Akibat keterbatasan air, musim tanam tahun ini juga mengalami keterlambatan. Jika biasanya penanaman selesai pada akhir Juni, tahun ini baru dapat dilakukan pada Juli sehingga tanaman belum sempat dipanen.
Ia mengungkapkan, hingga kini belum ada petugas dari dinas terkait yang datang memantau kondisi sawah yang terdampak kekeringan.
Menurut dia, pihak yang rutin datang hanya Babinsa untuk melihat kondisi di lapangan. "Kalau dari dinas belum ada. Yang sering datang paling Babinsa," tuturnya.
BACA JUGA: PBB Ungkap Dampak El Nino 2026-2027, 49 Juta Orang Terancam Krisis Pangan
Menurut Suwarman, berbagai upaya sebenarnya pernah dilakukan untuk mengatasi persoalan air, mulai dari pembangunan pompanisasi hingga sumur bor bantuan TNI. Namun, fasilitas tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan petani.
Ia menyebut, terdapat dua titik sumur bor berkedalaman sekitar 80 meter yang kini tidak lagi mengeluarkan air, kecuali saat musim hujan.
Rencana pengeboran lebih dalam juga belum dapat dilakukan karena membutuhkan perizinan khusus apabila kedalaman melebihi 100 meter.
"Ada air di bawah, tetapi kalau lebih dari 100 meter harus ada izin karena dikhawatirkan keluar gas. Akhirnya tidak jadi dibor," pungkasnya.