Rusia Pun Panik, Siap-Siap Hadapi Kontraksi Ekonomi Pasca Pandemi

Senin 27-04-2020,13:23 WIB
Reporter : Benny
Editor : Benny

Tak ada negara yang benar-benar aman dari virus Covid-19. Bahkan negara besar dan maju sekalipun. Termasuk Rusia. Ya, negara yang dipimpin Vladimir Putin itu juga merasakan dasyatnya terpaan wabah virus tersebut. Mulai dari alat kesehatan seperti masker dan APD (Alat Pelindung Diri) yang mulai terbatas, hingga ancaman kontraksi ekonomi. Oleh: Ariyansah ------------ BEGITULAH gambaran kondisi umum negara terbesar di dunia itu, kini. Hal ini disampaikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarusia, Mohamad Wahid Supriyadi dalam diskusi online via aplikasi Zoom garapan DPP GMNI, Rabu (22/4) malam. Supriyadi, dalam diskusi itu mengawali penyampaian tentang penanganan awal pemerintah negara itu. Menurutnya, ada keterlambatan respons awal dalam menghalau virus ini masuk ke negara tersebut. "Awal-awalnya memang banyak yang meragukan. Karena baru terdeteksi akhir Januari (di Rusia). Tepatnya 31 Januari, ada dua korban. Setelah itu dari pemerintah mengetahui sudah ada kasus, langsung menutup pintu perbatasan dengan China," katanya. Rusia, salah satu negara yang langsung berbatasan dengan China. Berada di bagian utara benua Asia. Bagian timur benua Eropa. Sejak kasus positif Covid-19 terungkap pada akhir Januari, lanjut Supriyadi, angka itu terus meningkat tajam. Dari hari ke hari. Awalnya, pemerintah menganggap kondisi yang dialami negaranya tak akan separah seperti saat ini. Sejak awal, negara ini terlambat mendeteksi. Terbukti saat itu Rusia yang masih mengirimkan bantuan ke Italia pada 21 Maret lalu. "Dari awal agak terlambat mendeteksi itu (penyebaran Covid-19). Kita tahu, Rusia masih memberikan bantuan ke Italia. Tanggal 21 Maret. Tapi sekarang Rusia memiliki permasalahan menyangkut APD, masker yang mulai terbatas, kemudian ventilator juga. Ini kondisi di Rusia," tambahnya. Jumlah kasus di Rusia kini mencapai 58 ribu lebih. Dari jumlah itu, 55 persennya berada di ibu kotanya. Moskow. Saat ini, pemerintah Rusia mulai ketat. Menerapkan physical distancing. Orang-orang tak boleh keluar masuk kota tanpa ada surat izin dari pemerintah. Keluar rumah tanpa surat izin hanya boleh dilakukan untuk berbelanja. "Ke taman-taman sudah dilarang. Mall sudah ditutup. Kuliah by online. Di Moskow misalnya, orang yang mau keluar jauh (perjalanan) harus mendapatkan izin yang diambil (formulirnya) melalui online. Rusia melakukan peningkatan (pengetatan). Tapi belum melakukan total lockdown. Karena kalau dilakukan itu, akan menciptakan chaos. Dan saya kira itu juga jadi perhatian bagi sebagian negara-negara termasuk kita (Indonesia)," jelasnya. Di Rusia, pemerintah memperkirakan masa puncak pandemi sekitar dua-tiga pekan lagi. Beberapa peringatan-peringatan hari besar dan event besar di negara itu harus ditunda. Seperti St. Petersburg International Economic Forum, Kazan Summit dan parade militer tanggal 9 Mei yang merupakan peringatan hari kemenangan Rusia terhadap tentara Nazi Jerman. ANCAMAN KONTRAKSI EKONOMI Beberapa negara-negara di dunia semua berhitung. Kata Mohamad Wahid Supriyadi, dubes RI untuk Rusia dan Belarusia itu. Akan terjadi krisis ekonomi yang diakibatkan pandemi COVID-19. Bahkan diperkirakan krisis yang terjadi lebih berat setelah Perang Dunia I, 1937an. "Kesulitan ini (di tengah pandemi) adalah kesulitan dunia. Termasuk Rusia sendiri. Dan saya kira semua negara mengalami hal sama (kesulitan)," kata Supriyadi. Pemerintah Rusia juga telah memperhitungkan dampak ekonomi yang akan menimpa negaranya karena pandemi. Adanya virus Corona ini diprediksi mengurangi pertumbuhan ekonomi dua sampai lima persen. "Artinya akan terjadi kontraksi pada 2020. Akan terjadi penurunan ekonomi minus antara dua sampai lima persen," imbuhnya. Kondisi itu diperkuat dan diperparah dengan harga minyak dunia yang terjun bebas. "Ini pukulan luar biasa bagi Rusia. Karena harga minyak di APBN mereka USD 42 (per barel). Sekarang kan sekitar USD 25. Dan kita tahu, 40 persen DGP (Gross Domestic Product) berasal dari migas. Ekspornya 60 persen," katanya. Di sektor ketenagakerjaan, jumlah pengangguran diprediksi meningkat tiga kali lipat. Yaitu sekitar 10-15 persen dari total penduduk. Itu cukup besar. Untuk mengatasi itu, pemerintah telah melakukan beberapa upaya guna menangani dampak pandemi kepada masyarakat. "Pemerintah Rusia juga memberikan bantuan UMKM, kemudian BLT (Bantuan Langsung Tunai) ke warga-warga. Dan memberikan kemudahan bagi bisnis-bisnis. Tapi itu saja tidak cukup. Kita harus realistis. Ini akan terjadi resesi dunia. Kita harus siap-siap di tahun 2020 ini, akan terjadi resesi dunia yang besar," ujar Supriyadi. Perlu adanya kerja sama dunia dalam rangka menangani pandemi COVID-19 ini. Harus ada kerja sama antara pemerintah dan non pemerintahan. Tak bisa jalan sendiri-sendiri. "Ini fakta yang harus saya sampaikan apa adanya. Rusia sendiri, yang utangnya kecil, yang cadangan devisanya besar saja sangat terpukul dengan kondisi ini," ungkapnya. Berbeda dengan Belarusia tak terlalu ketat. Bahkan pertandingan-pertandingan sepak bola masih berlangsung di sana. Padahal Belarusia juga tak lepas serangan virus Corona. Jumlah kasus seribuan lebih. "Sampai sekarang Belarusia tidak terlalu ketat. Di sana masih ada pertandingan bola," bebernya. KONDISI WNI Supriyadi membeberkan, kondisi seluruh WNI (Warga Negara Indonesia) di negara terbesar di dunia itu. Saat ini, seluruh WNI di negara tersebut berjumlah 1.300 orang lebih dalam kondisi baik-baik saja. Tak ada yang teridap virus Corona. "Alhamdulillah, masyarakat Indonesia di Rusia tidak ada yang terinfeksi. Yang kami lakukan sebagai KBRI di sini, menyusun kontigensi plan. Dari status Siaga 3, Siaga 2 sampai Siaga 1. Kita tiap hari membuat assesment. Dan saat ini kita sudah Siaga 2. Kita juga membuat skenario. Mengenai evakuasi. Itu semua sudah kita pertimbangkan. Dan kita secara rutin melakukan video conference," jelasnya. Sama seperti warga Rusia lainnya. Para WNI menetap di tempat tinggal saja. Tak keluar bepergian. "Mereka di apartemen. Bahkan yang kuliah, dari universitas memberikan bantuan keuangan. Sejauh ini, WNI di Russia cukup terkendali," pungkasnya. (dah)

Tags :
Kategori :

Terkait