Menurutnya, keberadaan caregiver (perawat lansia) menjadi kebutuhan utama dalam operasional panti sosial karena mereka bertugas mendampingi dan merawat penghuni lanjut usia dalam aktivitas sehari-hari.
“Sebetulnya yang paling banyak diperlukan itu caregiver. Mereka itu ibaratnya yang merawat orang tua, jadi tidak ada tenaga khusus, kalau mereka sakit kita tinggal panggilkan dan bawa ke puskesmas untuk diobati,” jelasnya.
Namun persoalan rekrutmen caregiver saat ini menjadi tantangan tersendiri. Sistem perekrutan tenaga kerja yang semakin ketat membuat penyediaan SDM untuk panti sosial diperkirakan tidak mudah dilakukan.
“Itu itu juga bagian yang agak sulit, karena sistem rekrutmen sekarang itu pun susah, itu juga bagian-bagian yang agak menghambat kita mau membangun tapi nanti rekrutmennya bagaimana,” katanya.
BACA JUGA: Video Joget ASN Berseragam Damkar Viral, Kadis Damkarmat Berau Sampaikan Permintaan Maaf
Sambil menunggu realisasi pembangunan panti sosial permanen, Dinas Sosial Berau saat ini masih mengandalkan rumah singgah sebagai solusi sementara untuk penanganan masyarakat terlantar, termasuk lansia sebatang kara.
Meski bersifat sementara, rumah singgah tersebut dalam kondisi tertentu masih dapat digunakan lebih lama dari ketentuan ideal yang hanya sekitar tujuh hari.
“Sebagai solusi, kita hanya bisa buat rumah singgah sementara. Walaupun sementara, kalau memang dipaksakan bisa juga lebih lama,” ucapnya.
Untuk penanganan lansia terlantar di lapangan, Dinsos Berau juga menggandeng ketua RT setempat dalam melakukan pemantauan.
BACA JUGA: Disbudpar Berau Siapkan Hutan Tubaan jadi Wisata Konservasi Anggrek
Selain itu, petugas Dinsos secara berkala turun langsung mengecek kondisi para klien atau lansia terlantar yang membutuhkan perhatian khusus.
Iswahyudi berharap pembangunan panti sosial regional dapat segera direalisasikan agar penanganan masyarakat rentan, khususnya lansia terlantar di Berau, dapat dilakukan lebih maksimal dan manusiawi.