Dengan kata lain, dampak resesi ekonomi tentu akan lebih parah dibanding krisis. Namun, perbedaan resesi dan krisis ekonomi tak hanya terletak di sisi keparahannya, tetapi juga pada panjang waktunya.
Bhima mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang negatif di satu kuartal bisa dikategorikan sebagai krisis. Hanya saja, hal itu tidak serta merta bisa dikategorikan sebagai resesi.
Sebab, menurut pengertiannya, resesi adalah pertumbuhan ekonomi yang masuk ke zona negatif dalam dua kuartal berturut-turut.
Di bawah ini adalah ciri-ciri yang umum digunakan untuk mendeteksi resesi ekonomi:
1. Guncangan ekonomi yang tiba-tiba
Terjadinya pandemi COVID-19 yang memukul sektor ekonomi di seluruh dunia adalah contoh yang lebih baru dari goncangan ekonomi yang tiba-tiba.
2. Utang yang berlebihan
aat individu atau dunia usaha mengambil terlalu banyak utang, mereka bisa terjebak ke gagal bayar utang. Kondisi inilah yang membuat kebangkrutan dan membalikkan perekonomian.
BACA JUGA:Ini Cerita Lebaran Pertama Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan
3. Gelembung aset
Investasi berlebihan di pasar saham atau real estate diibaratkan seperti gelembung yang bisa membesar. Ketika gelembung meletus, terjadi penjualan dadakan yang dapat menghancurkan pasar dan menyebabkan resesi.
4. Inflasi Terlalu Tinggi
Inflasi adalah tren harga yang stabil dan naik seiring waktu. Inflasi bukanlah hal yang buruk, tetapi inflasi yang berlebihan adalah fenomena yang berbahaya. Bank sentral tentu akan mengendalikan inflasi ini dengan menaikkan suku bunga. Namun, suku bunga yang lebih tinggi menekan kegiatan ekonomi.