Usai Melambung Tinggi, Harga Cabai di Kutim Mulai Normal di Angka Rp100 Ribu Per Kilogram

Jumat 27-03-2026,16:31 WIB
Reporter : Sakiya Yusri
Editor : Tri Romadhani

KUTAI TIMUR, NOMORSATUKALTIM Setelah sempat mengalami lonjakan ekstrem usai Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah hingga menembus Rp220 ribu per kilogram, harga cabai di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini mulai berangsur normal dan turun ke kisaran Rp100 ribu per kilogram.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim, Nora Ramadani mengatakan, penurunan harga ini menjadi sinyal awal membaiknya pasokan di pasar, meskipun kondisi distribusi belum sepenuhnya stabil.

“Per 26 Maret sampai hari ini 27 maret, berdasarkan data SP2KP, harga cabai rawit merah sudah turun di kisaran Rp100 ribu per kilogram,” ujarnya, saat di konfirmasi, Jumat 27 Maret 2026.

Sebelumnya, harga cabai di Kutim sempat melonjak tajam hingga berada di rentang Rp170 ribu sampai Rp220 ribu per kilogram dalam beberapa hari setelah Lebaran. Kenaikan tersebut dipicu kelangkaan pasokan yang terjadi secara bersamaan.

BACA JUGA:Jumlah Pembesuk di Rutan Tanah Grogot Capai 2.885 Orang Selama Libur Lebaran

BACA JUGA:Arus Balik di Mahulu Masih Sepi, Dishub Tetap Siaga di Beberapa Titik Strategis

“Memasuki H+2 Lebaran, stok cabai lokal sudah habis, sementara pasokan dari luar daerah seperti Jawa dan Sulawesi juga tidak tersedia, sehingga terjadi kekosongan di pasar,” jelas Nora.

Menurutnya, tingginya permintaan masyarakat pasca Lebaran yang tidak diimbangi dengan ketersediaan barang menjadi faktor utama lonjakan harga.

“Permintaan tetap tinggi, tapi barangnya tidak ada. Jadi ketika stok kosong bersamaan, harga langsung melonjak,” katanya.

Ia menegaskan bahwa fenomena kenaikan harga cabai tersebut tidak hanya terjadi di Kutai Timur, tetapi juga berlangsung secara nasional.

BACA JUGA:Khawatir Terjadi Inflasi, Pemkot Samarinda Gerak Cepat Bangun Ulang Pasar Segiri

Sejumlah daerah penghasil cabai utama mengalami gangguan produksi, bahkan gagal panen.

“Ini fenomena nasional. Daerah penghasil seperti Sulawesi dan Jawa juga mengalami kendala produksi, sehingga pasokan ke daerah ikut terganggu,” ungkapnya.

Di sisi lain, produksi cabai lokal di Kutim masih terbatas dan belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat secara keseluruhan.

“Produksi lokal kita hanya sekitar 30 persen dari kebutuhan, dan itu sudah habis terpakai saat bulan puasa,” tambahnya.

Kategori :