Secara desain, GOR Kakaban Aquatic mengadopsi konsep GOR Among Rogo di Yogyakarta yang kerap menjadi lokasi kejuaraan nasional dan internasional. Meski demikian, unsur lokal tetap dihadirkan sebagai identitas daerah.
BACA JUGA: Kondisi GOR Pemuda Berau Memperihatinkan
BACA JUGA: Jembatan Bujangga Mulai Retak, DPUPR Berau Tunggu Kajian BPJN
“Unsur lokal tetap kami masukkan. Atapnya menyerupai ubur-ubur Kakaban, warnanya juga mengadopsi nuansa laut Derawan dan maratua,” kata Ridho.
Bangunan GOR dirancang tertutup penuh. Sementara itu, sistem sirkulasi udara dan pendingin ruangan masih dalam kajian konsultan perencana untuk menentukan opsi paling efisien.
Ridho menambahkan, pembangunan GOR ini sejalan dengan kebijakan daerah dalam mendorong sport tourism. Dengan standar internasional, Berau diharapkan mampu menjadi lokasi penyelenggaraan pertandingan berskala besar.
“Harapannya, kalau ada event besar di luar daerah, semifinal atau finalnya bisa digelar di Berau. Atlet dan penonton bisa sekalian berwisata, seperti yang terjadi di Yogyakarta,” ujarnya.
BACA JUGA: Disorot Bupati, DPUPR Berau Klarifikasi Proyek Irigasi Rp4,8 Miliar di Bendung Muara Bangun
BACA JUGA: PJU Tumpang Tindih di Jalan Diponegoro 'Disemprit' Bupati Sri, Begini Penjelasan Dishub Berau
Meski memiliki kapasitas besar, DPUPR Berau menegaskan GOR Kakaban Aquatic dirancang khusus untuk kegiatan olahraga dan tidak diperuntukkan bagi kegiatan non-olahraga.
“Harapan kami, GOR ini steril dari kegiatan di luar olahraga. Belajar dari Among Rogo, fasilitas olahraga sebaiknya tidak dicampur dengan event lain,” tegas Ridho.
Untuk menyelesaikan pembangunan hingga siap digunakan sepenuhnya, dibutuhkan anggaran sekitar Rp66 miliar. Dengan skema pembangunan bertahap, penyelesaian proyek diperkirakan paling cepat pada 2028, bergantung pada kemampuan anggaran daerah.
“Kalau tahun ini struktur bawah, tahun berikutnya struktur atas, lalu finishing. Paling cepat 2028 sudah bisa digunakan, tergantung kemampuan anggaran daerah,” pungkasnya.