Ia menambahkan, antrean kendaraan sering kali tidak terhindarkan, terutama saat truk bermuatan besar harus bergantian melintas di jalur sempit yang tersisa.
“Kalau hujan, kami makin waswas. Takut longsor susulan dan jalan ini benar-benar putus,” ujarnya.
Jalan Poros Sangatta–Bengalon memiliki peran strategis sebagai jalur distribusi hasil tambang, perkebunan, serta kebutuhan pokok masyarakat.
Ketergantungan terhadap jalur ini membuat gangguan sekecil apa pun berdampak luas.
BACA JUGA:Buaya 2,5 Meter Naik ke Permukiman Warga Teluk Lingga Kutim
Meski berstatus jalan nasional dan berada di bawah kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), hingga kini penanganan yang dilakukan dinilai belum maksimal.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pemerintah daerah bersama DPRD Kutim telah berulang kali menyampaikan usulan dan permintaan perbaikan kepada pemerintah pusat.
Namun, kondisi di lapangan belum menunjukkan perubahan signifikan.
Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi itu masih berada dalam kondisi rawan dan membahayakan bagi pengguna yang melintas.